Berita akhir-akhir ini marak dengan penonaktivan beberapa pejabat karena mereka sering pamer harta. Kata "harta" dan "pamer" sering muncul di pemberitaan manapun. Orang seolah tidak kenal lagi bahwa hidup itu adalah sahaja, semenjana, prasaja. Seolah hidup ini digelontor harta atau bahasa Jawanya, "diuja karo bandha". Harta bukan sekedar tas bermerk, jam tangan bermerk, mobil bermerk, atau perabotan rumah mewah. Ada juga yang pamer bepergian ke sana ke mari baik di dalam negeri maupun luar negeri dengan foto-foto yang di-upload di media sosial. Ketika media sosial itu memang akun pribadi namun yang namanya "media" untuk "bersosialisasi" maka menjadi tersebarlah hal-hal yang sifatnya pribadi. Orang tidak sadar dan tidak bisa menyalahkan perangkat ini. Ketika sudah pamer kemewahan dan harta (yang entah dari mana), pasti banyak orang akan bisa menelusur hal-hal yang sifatnya privat ini. Karakter media sosial adalah membeberkan segala macam hal sehingga menjadi tersosialisasikan, tersiarkan, tersebarkan.
Ketika trend pola Mario yang menganiaya David dan akhirnya permasalahan ini berujung pada pemecatan ayah Mario dari Dirjen Pajak, maka pola-pola yang sama pun dipakai untuk "mengadili" para pejabat yang sering pamer kemewahan dan harta. "Anak polah, bapa kepradhah,"demikian orang Jawa mengatakan peribahasanya untuk segala hal yang menyangkut perilaku anak akhirnya terimbas pada orangtuanya. Benar bahwa akhirnya toh dari mana sih si anak dapat pamer atau bisa meniru? Tak lain ya adalah dari orangtuanya. Entah itu langsung atau tidak langsung, kemewahan dan harta itu dari orangtuanya. Akhirnya senjata yang dipunyai untuk bermewah-mewah atau pamer itu ditelisik orang lain untuk menunjuk "itu lho orangtuanya".
Kekejaman netizen menghakimi mereka yang pamer kemewahan dan harta ada baiknya. Baik bahwa itu mengurangi kecenderungan untuk pamer. Namun yang lebih penting lagi adalah bagaimana melatihkan hidup bersahaja, prasaja itu dari keluarga inti. Orangtua yang merasa berhasil, sering kali mengatakan bahwa mereka tak ingin anak cucunya sengsara seperti mereka di zaman perjuangan. Ideologi inilah yang kemudian menimbulkan banyak orang berlomba-lomba mengutamakan ketamakan daripada kesahajaan. Keberhasilan adalah tujuan hidup, bukan sarana lagi. Tujuanku adalah mendapat, menumpuk, menyikat harta dan segala macam kemewahan yang bisa kuraih supaya aku bisa pamer dan punya kekuasaan (power) untuk menyikat, mendapat hal-hal yang lebih banyak lagi. Dan itu adalah harta dan kemewahan.
"Sahaja" itu dekat dengan kata "sahaya" yang adalah hamba miskin atau budak atau jongos. Itulah yang menjadi kata "saia" atau "saya". Kita melupakan kesahayaan diri kita sehingga sahaja itu mahal harganya. Orang sering memakai kata "aku" yang cenderung egois, self-centris, dan cenderung childish. Apa-apa harus "aku". Kalau si aku ini tidak mendapat segala yang dimaui, maka ngambek, marah, mendendam. Kita ini adalah sahaya yang harus bersahaja. Mengapa demikian? Kesahajaan adalah benteng dari ketamakan yang merusak kehidupan. Perang adalah muara dari ketamakan, terlalu ingin menang sendiri, dan menguasai yang lain. Kesahajaan itu adalah ibu dari kehidupan agar yang lain juga kebagian hidup itu sendiri. Hidup itu ada ruang dan waktu dalam dimensi di dunia ini. Maka berbagi ruang dan waktu itulah yang terpenting dari kesahajaan dari seorang sahaya satu ke sahaya yang lain.
Solidaritas dan kepekaan akan sahaya ini jauh dari apa yang selayaknya kehidupan ini berlaku. Orang tidak lagi paham dengan solidaritas karena lebih membesarkan "aku"-nya daripada "sahaya"-nya. Kalau orang mengaku diri sebagai sahaya maka ia rela melayani, rela mengalah, rela berbagi. Kalau yang hidup hanya "aku"-nya, maka yang hidup juga ego-nya. Semua terpusat pada "aku" yang semu. Hidup ini tak lain dan tak bukan adalah berbagi dan solider dengan yang lain. Peka dengan situasi sering juga terkalahkan oleh kepentingan "aku" yang terlalu besar. Orang berorientasi pada harta dan kemewahan sehingga itulah yang memoles "aku" atau "ego". Harta dan kemewahan mengubah sahaya yang seharusnya bersahaja menjadi AKU dan EGO yang jauh lebih menutupi kehidupan ini. Selayaknya kita mengatakan bahwa aku adalah hamba sahaya yang tidak punya apa-apa. Hidup ini adalah peziarahan yang tak lama dan tak bawa apa-apa. Kesahayaan tentu menuntut kesahajaan. Jika setiap pribadi manusia adalah sahaya bagi yang lain maka hidup ini tak bakal kekuarangan, tak bakal ada kecemburuan, dan semua hidup dalam kecukupan. Cukup itu bukan menumpuk atau tamak. Orang mengatakan cukup mengandaikan hidupnya merasakan arti sebuah kesederhanaan.
Tentu tak ada lagi saling menjatuhkan karena tidak saling iri harta dan kemewahan seandainya sahaya itu saling menghargai satu dengan yang lain. Sahaya tidak mencurigai sahaya yang lain karena sebagai sahaya, kita adalah saling mengabdi satu dengan yang lain. Sahaya tidak posesif dengan harta dan kemewahan, apalagi pamer-pamer. Keluarga-keluarga perlu mendidik anak-anaknya untuk (1) tidak gila pada harta dan kemewahan. Teringat aku dengan seorang teman yang ketika bersama anaknya dia mengatakan: "Nanti kalau sudah besar carilah suami yang kaya biar hidupmu tidak susah." Dari kecil anak itu sudah dicekoki ideologi tentang kekayaan, bukan kecukupan; (2) mengatakan dan bisa menerima kata "cukup" dan bukan menjadikan diri yang tamak (greedy). Ketamakan adalah pangkal dari kejahatan di dunia ini. Ketamakan menghasilkan kurangnya barang yang dibutuhkan orang lain karena menumpuk di sebagian orang saja; (3) tidak alergi dengan perjuangan dan kerja keras. Hidup ini walau gratis toh dalam mengupayakan ketahanannya juga butuh usaha. Kerja keras itu masih perlu dilatihkan, tidak dihindari. Anak yang sering dimanja akan menjadi pribadi yang EGO-nya besar. Ukurannya hanya dia. Yang lain seolah numpang saja; (4) pembiasaan low profile dalam segala hal, tidak cari pujian, dan menonjolkan diri. Cari pujian dan menonjolkan diri adalah pangkal dari sikap pamer. Pamer saat ini adalah virus berbahaya yang bisa mencabut nyawa. Dengan mata dan jari kita, kita posting dan upload kepameran kita di medsos. Itulah awal dari runyamnya kehidupan. Sikap bijak dan hati-hati itu tetap penting.Sahaja itu tetap penting. Walau zaman ini seolah menyingkirkan kebersahajaan, kita tetap perlu memperjuangkan itu. Tanpa kesederhanaan, kita akan tidak cukup, dan kita cenderung melukai rasa keadilan dalam kehidupan ini. Maka marilah kita tetap berjuang hidup bersahaja, bersikap biasa walau kita diberi kelebihan, dan tidak menonjolkan diri. Sebisa mungkin kita saling berbagi dan mengabdi, karena itu adalah hal yang berat yang menjadi pergulatan manusia dari zaman ke zaman. Perjuangan itu banyak mendapatkan godaan atau tentangan dari si pamer, si jahat, si musuh abadi jiwa manusia.
#noontime#

No comments:
Post a Comment