Aku hanya sebagai sopir yang membantu. Namun demikian aku juga tidak ingat harus menghitung ulang orang yang seharusnya masuk dan diangkut. Setelah semua dirasa selesai dan harus segera berangkat, maka bergegaslah kami. Di angkutanku yang kebanyakan adalah barang, ada satu orang yang ikut. Sesampai di pertengahan jalan sebelum sampai pada tempat yang dituju, HP-ku berdering. Aku sebenarnya bisa saja mengabaikan, namun kalau ada yang telepon pasti ada sesuatu. Untungnya aku masih bisa mengendalikan kemudi sambil menerima telepon.
Apa yang terjadi? Ternyata ada satu rekan yang masih tertinggal. Astaga! Aku tidak mengira jika itu terjadi. Aku tidak habis pikir mengapa itu bisa terjadi. Aku lantas minggir dan memberhentikan angkutan yang kukendarai di sebuah parkiran resto yang masih sepi. Aku mencoba koordinasi bagaimana yang tertinggal ini bisa dibantu diangkut. Awalnya aku akan menunggui sampai ada yang mengantarkan yang tertinggal ini. Namun kemudian ada info update bahwa yang tertinggal akan dipesankan Gojek supaya bisa lekas mengikuti yang lain. Akhirnya aku mengendarai lagi sampai di parkiran akhir sebelum sampai ke camping ground.
Aku menunggu sampai datangnya yang tertinggal diantar Gojek. Sesampainya yang tertinggal di parkiran akhir, aku mencoba bertanya kepadanya, "Tadi koq bisa ketinggalan? Kamu ke toilet?" Ia menjawab, "Iya tapi aku sebenarnya sudah bilang si L supaya memberitahu yang lain." Ia menjawab sambil kecewa dan agak mangkel dengan si L yang ternyata tidak menunaikan tugasnya sekedar untuk omong bahwa ada satu teman yang masih ke toilet dan harus ditunggu.
Dari sini aku hanya bisa menduga-duga beberapa kemungkinan. Kemungkinan pertama, benarkah ia bilang kepada si L bahwa ia harus ditunggu. Jika itu benar, memang ada kelupaan dari si L untuk bicara. Kemungkinan kedua, mengapa kalau ia benar-benar tahu harus menyampaikan ke si L dan tidak langsung pada koordinator supaya lebih jelas dan ditunggu? Kemungkinan ketiga adalah bahwa dari kemungkinan pertama dan kedua bisa digabung. Artinya, ada sebuah fenomena bahwa pesan berantai pada saat ini sudah tidak lagi bisa dilakukan, karena orang tidak lagi terbiasa dititipi sesuatu atau orang tidak lagi mampu mendengarkan dengan baik apalagi menyampaikan ke pihak lain.
Aku hanya melihat ini dari sisi kemanusiaan yang memang kadang itu rapuh, tak sudi mendengarkan, tak sudi pula menyampaikan. Aku juga melihat bahwa cara berkomunikasi itu sudah berubah dan kadang juga diwarnai dengan kerapuhan-kerapuhan yang ada. Yang satu kurang bisa mendengarkan, yang lain tak mampu menyampaikan. Pengalaman ketinggalan ini menjadi penting, formatif bagi kedua belah pihak. Satu lagi, jika ada koordinator dalam sebuah penugasan seperti ini, tentu koordinator itu mengecek atau memeriksa ulang teman-teman yang sudah terangkut dan memastikan apakah ada yang kurang atau sudah lengkap semua.
Yah, itulah anak manusia. Itulah anak-anak Adam dan Hawa yang juga tidak sempurna. Hidup ini kadang penuh dengan lelucon dalam praktiknya. Ada kerapuhan. Ada kekuatan. Ada juga kelucuan. Hidup ini kadang perlu ditertawakan alias menertawakan diri sendiri juga perlu. Sebagai yang terlibat mengantar, aku juga sadar bahwa kebiasaan untuk peduli pada yang lain adalah perlu. Sisi detil itu perlu dilatihkan dengan attentiveness. Jika tidak maka semua tidak ada artinya. Tak heran bahwa akhirnya experientia est optima magistra. Pengalaman itu adalah guru terbaik.

No comments:
Post a Comment