Ada pepatah Jawa, "aja cedhak-cedhak kebo gopak". Artinya, jangan dekat-dekat kerbau kotor. Memang menggunakan peribahasa saat ini dalam berbahasa sudah tidak lagi umum. Orang lebih suka berpantun daripada berperibahasa. Berpantun pun sudah sangat cair dan terbuka, sehingga hanya memperhatikan rima saja. Kadang berpantun pun dipaksakan yang penting dapat rimanya. Ketika memaknai peribahasa itu aku hanya mengingat dan merenung pada keadaan di mana kotoran, rasa jijik, merasa diri bersih, dan macam-macam. Semalam kita juga tengah berbicara soal kaum tani yang selalu akan mengalami ketersingkiran, kekalahan, ketertindasan karena sejak semula, tanah kotor itu yang jadi sumbernya. Petani adalah kaum kalah di bumi ini. Padahal hasilnya selalu dinikmati oleh semua orang. Kaum kulineran selalu akan memakan dan menikmati hasil kerja keras kaum tani ini, yang setiap harinya bergumul dan bergelimang dengan kotoran, tanah, dan segala macam yang menyuburkan kehidupan tanaman.
Beberapa waktu lalu bapakku mengeluh karena mau menggarapkan tanah sawah saja sudah tidak mudah mencari penggarap alias mereka yang mau mencangkul, menyiangi tanaman di sawah dan menggarap sampai panen. Di desa saja petani sudah jarang. Bahkan jumlahnya bisa dihitung. Itulah mengapa bapakku kesulitan mencari tenaga penggarap sawah atau ladang sekedar untuk menyiangi rumput atau mencangkul tanah sawah sehabis panen. Menjadi petani itu sesuatu yang dihindari oleh kalangan orang saat ini. Aku tidak hanya menyebut orang muda tetapi kalangan orang saat ini. Entah mengapa itu dihindari. Apakah karena menjadi petani itu sengsara? Apakah hasilnya tidak menjanjikan? Apakah karena kotor karena selalu bergumul dengan tanah dan kotoran? Atau ada alasan lain, sampai saat ini memang belum ada jawaban yang pasti.
Aku sendiri dari keluarga petani hanya sampai pada generasi kakek-nenek. Itu pun dari bapak. Dari keluarga ibu, petani sudah berhenti di generasi sebelumnya. Artinya, kesinambungan "profesi" petani di keluargaku juga sudah terputus. Anak dan cucu sudah beralih kiblat ke pilihan profesi lain yaitu guru atau pegawai non petani. Menjadi petani seolah sudah tidak lagi zamannya. Dan ketika merenung lebih jauh hal ini sebenarnya memprihatinkan. Profesi petani selalu akan dikalahkan dan disepelekan karena orang selalu akan menyebut profesi ini dengan kata "hanya" petani. Kami "hanya" dari keluarga petani. Kami ini "hanya" petani miskin, orang kecil, dan sebagainya. Nah, petani itu dimaknai sebagai minioritas. Ia adalah kaum kecil, miskin dan akhirnya tersingkir. Padahal tanpa petani, kita semua tak bisa menikmati kuliner yang sekarang apapun bisa laku. Makanan apapun bisa dijual. Bahan makanan itu semua dari petani. Jika tidak, kita bisa bertanya: "siapa penghasilnya?"
Memang jika kita melihat fenomena "hanya" petani atau ketersingkiran dan kekalahan petani sehingga profesi petani ini tidak menjadi favorit, itu akibat dari cara kita melihat dan berpikir sehingga mempengaruhi cara kita bertindak. Petani seolah tidak penting walau de facto mereka penting. Mengapa profesi ini selalu dicibir? Karena petani itu tidak sangat dibanggakan, petani sendiri tidak pernah diajak bangga dengan dirinya. Paradigma manusia saat ini meminggirkan mereka karena yang bergulat dengan tanah dan kotoran itu adalah mereka yang rendahan. Tanah itu memang di bawah. Yang di bawah itu kotor dan menjijikkan. Kotoran itu selalu dianggap harus disingkirkan dan dijauhi. Oleh karena itu, petani yang bergulat dengan tanah dan kotoran (pupuk) itu harus dijauhi dan tidak perlu dibahas. Hasil pertanian saja yang diperhatikan. Sebab, proses dan siapa pelakunya itu tidak penting. Kira-kira itu paradigma manusia saat ini yang anti petani, tanah, dan kotoran.
Sayangnya, petani dan hasil pertanian itu pantas dan layak dibanggakan. Tanah dan kotoran itu pantas dihargai karena tanah itu tempat bertumbuhnya tanaman untuk kehidupan. Tanah adalah tempat tumbuh. Kesuburan tanah itu karena ada kotoran yang jadi pupuk. Namun orang menyebut kotoran sebagai yang menjijikkan. Mereka menjauhi kotoran, sedangkan petani itu mendekati dan bergaul erat dengan kotoran. Maka dari itu, petani adalah sahabat kotoran dan tanah yang direndahkan. Petani modern pun harus bergulat dengan tanah dan kotoran. Semodern-modernnya petani dan pertanian, tanah selalu akan jadi fokusnya. Orang tak bisa mengelak atau menolak kotor(an).
Kembali ke ungkapan awal, mengapa orang menilai seseorang atau sesuatu dari bersih tidaknya dia? Bagiku, orang selalu mencari yang bersih. Yang bersih itu menyenangkan, tidak kotor itu segala-galanya. Padahal tidak menjamin yang bersih itu baik. Tidak semua dari kita adalah bersih. Atau bahkan kita semua itu tidak bersih. Kita semua itu rapuh, kita semua itu berdosa. Dosanya kecil atau besar itu tergantung yang menilai. Diri sendiri saja tidak bisa menentukan apakah dosaku kecil atau besar. Maunya berdosa kecil, tetapi ada orang lain menilai besar, maka kita tidak bisa menolak. Orang lebih mudah menilai kita adalah bersalah, kotor daripada menilai sesama itu bersih, baik. Itu adalah nalar survival, nalar bertahan hidup. Tidak mudah menerima mereka yang bersalah, jatuh, gagal, dan jelek. Lebih mudah menerima mereka yang cantik/ganteng, bersih, tidak bersalah, semua serba baik. Padahal pada dasarnya manusia itu kotor, lemah, rapuh, ada sisi keberdosaan. Tetapi sekali lagi idealisme manusia itu selalu akan menyematkan sosok di luar dirinya harus bersih, cemerlang, berprestasi, perfect dan itu adalah proyeksi dirinya yang lemah, cacat, rapuh, berdosa supaya ada sosok yang lebih baik daripada dirinya. Ketika sosok itu diketahui jatuh, gagal, berdosa karena setitik kesalahan saja, maka image kotor itu langsung disematkan pada dirinya. Dan seolah-olah tanpa pengampunan. Sekali jatuh tetap jatuh dan kotor. Itulah gambaran seperti malaikat yang jatuh dan jadi iblis.Manusia menilai orang lain jauh lebih mudah menghakimi dengan kekotoran, keberdosaan, kerapuhannya daripada melihat adanya pengampunan, kebertobatan, perbaikan, dan apresiasi yang membangun. Otak manusia jatuh dalam ekstrimitas satu ke yang lain. Orang yang mudah melihat saudaranya jahat, negatif akan mudah sekali menjadi pengkiritik daripada pemberi apresiasi. Di sisi lain, ekstrim satunya adalah orang yang mudah memberi apresiasi akan kesulitan memberi penilaian sisi negatif atau kekurangan orang lain sehingga menjadi naif.
Oleh karena itu, belajar dari kekurangan dan kotoran, aku belajar banyak untuk menilai orang itu lebih prosporsional. Aku sendiri bukan pribadi yang perfect. Nobody is perfect. Apakah Tuhan yang kita sebut sempurna itu ciptaannya juga sempurna? Ternyata juga tidak. CiptaanNya pun juga ada cacatnya. Namun dari kekurangannya itu kita bisa memaknai supaya kerahiman Sang Pencipta terungkap nyata. Orang menuntutnya semua sempurna tanpa cela, namun kadang orang ini kurang realistis bahwa kita semua itu tentu ada kekurangannya. Seorang idealis perfectionis bahkan akan menilai juga bahwa Tuhan itu tentu salah karena yang benar adalah hanya dirinya.
Semoga glumprut, belepotan, kotor, menjijikkan ini tidak menghalangi rahmat dari atas untuk melihat segala sesuatunya secara baru dalam Dia. Kita lupa bahwa kita diberi cara pandang dan bukan hanya alat pandang. Kita tidak hanya punya mata untuk melihat tetapi cara pandang yang kadang tak butuh mata. Kita bukan hanya bisa berdiri dengan kaki tetapi berdirinya manusia itu juga dengan cara berdiri yaitu pendirian.
Peribahasa "aja cedhak-cedhak kebo gopak" itu adalah peribahasa bagi mereka yang sok suci dan sok bersih padahal dirinya juga seperti kuburan yang bersih dari luar karena dilabur putih luarnya namun dalamnya juga isinya adalah bangkai. Kita semua adalah ciptaan yang punya kerapuhan, ada sisi kegagalan, jatuh tetapi percaya bahwa aku dicintai Tuhan. Oleh karenanya, aku masih hidup.
#morningtime#

No comments:
Post a Comment