Thursday, September 28, 2023

Wolak-Waliking Wektu

Sebuah lyric lagu berjudul "Satu-Satu" berkata demikian:

Mata pernah melihat
Telinga pernah mendengar
Badan pernah merasa
Terekam jelas seakan terjadi
Baru saja


Siapakah yang salah
Siapa yang tanggung jawab
Waktu terus berjalan
Terasa salah karena
Ada yang belum selesai oh no no

                                                    Aku sudah tak marah
                                                    Walau masih teringat
                                                    Semua yang terjadi kemarin
                                                    Jadikan aku yang hari ini

Aku sudah tak benci
Walau nyatanya merugi
Terdengar tidaknya kata maaf
Dada lapang terima semua

                                                    Akan ada masa depan
                                                    Bagi semua yang bertahan
                                                    Duniaku pernah hancur
                                                    Rangkai lagi satu satu

Hu......

Tak semua kan paham
Dan tak semua katakan
Maaf semua harus terjadi
Pasti rasa sepi
Kini kau tak sendiri lagi
Tak pendam lagi
Aku akan coba pahami

                                                    Aku sudah tak marah
                                                    Walau masih teringat
                                                    Semua yang terjadi kemarin
                                                    Jadikan ku yang hari ini

Aku sudah tak benci
Walau nyatanya merugi
Terdengar tidaknya kata maaf
Dada lapang terima semua

                                                    Akan ada masa depan
                                                    Bagi semua yang bertahan
                                                    Duniaku pernah hancur
                                                    Rangkai lagi satu satu

Akan ada masa depan
Bagi semua yang bertahan
Duniaku pernah hancur
Rangkai lagi satu satu

Akan ada masa depan
Bagi semua yang bertahan
Duniaku pernah hancur
Rangkai lagi satu satu
Rangkai lagi satu satu
Rangkai lagi satu satu

 

Lyric ini kemudian merangkai ingatan-ingatanku yang terpecah saat ini dengan peristiwa masa lalu yang tidak secara langsung aku alami. Namun demikian setelah sekian waktu merenung, aku mencoba mencari benang merah ide yang terpecah itu, yang kutemukan disatukan oleh lyric ini. Ya, kembali aku mengingat peristiwa yang sebenarnya masih menjadi tabu, dihindari, dilarang bahkan oleh sekumpulan orang di negeri ini. Memang tidak semua, namun sebagian besar menyingkiri dan sebaiknya tidak dibahas besar-besar di wilayah umum. Kadang ini masih menjadi sesuatu yang menakutkan. 

Menakutkan karena orang harus menuju pada sebuah luka masa lalu. Menakutkan karena peristiwa itu menyangkut nyawa sekian keluarga yang tercerai berai juga. Sama seperti ketika Bani Israel diasingkan dan dicerai-beraikan oleh Raja Babel zaman Darius maupun Xerxes di abad ke-5 sebelum Masehi. Dan tidak hanya itu, menakutkan karena peristiwa itu adalah bagian paling berdarah-darah dari negeri ini. Mungkin dari pembantaian itu peradaban itu dibangun. Aku belum melihat sebuah peradaban yang dibangun sejak awal adalah peradaban yang tenang dan damai. Peradaban adalah peradaban yang menakutkan, kejam, keji, penuh intrik dan peperangan. Menakutkan karena peristiwa itu telah memecah belah kehidupan pribadi, keluarga, komunitas, dan institusi sebuah negara ini. 

Peristiwa itu berdarah. Berdarah karena memang dari belasan nyawa menjadi pembalasan ribuan jiwa (bahkan ada yang menghitung jutaan jiwa)  yang mati oleh tangan saudaranya sendiri. Dan itu berlangsung sekian tahun, setidaknya satu dasa warsa dengan berbagai intensitasnya. Nyawa begitu murah. Dan karenanya, peristiwa itu adalah peristiwa berdarah. Seolah negeri ini dikuasai raksasa haus darah yang mewujud dalam diri penguasa. 

Peristiwa itu tentu bermula dari sebuah aktor atau pelaku yang entah dari mana dan siapa. Sampai sekarang itu pun tidak terkuak jelas. Memang peristiwa itu tidak berasal dari satu sumber karena memang yang melatari bukan hanya sebab internal tetapi ada aktor-aktor eksternal bahkan global. Itu yang memang berkelindan di dalam peristiwa itu. 

Aku hanya mau melihat demikian: awalnya pihak yang menjadi pelaku bisa menjadi korban. Dan sebaliknya korban bisa saja menjadi pelaku. Seperti debat mana dulu: ayam atau telor. Pihak-pihak yang semula menjadi pelaku diserang dan dibantai menjadi korban. Dalam hitungan cacah jiwa yang ratusan ribu jumlahnya itu sebenarnya bukan semua pelaku aktif langsung namun karena cap, stigma, stempel pada diri mereka maka dikorbankanlah mereka dan dianggaplah mereka sebagai musuh publik. Darahnya halal bagi semua yang mau membunuhnya. Yang awalnya disebut sebagai pelaku tidak lama menjadi korban kebiadaban peradaban terstruktur dalam sebuah negara. Bahkan perangkat negara yang tugasnya berperang pun bisa menjadi senjata pembunuh bagi rakyatnya sendiri. 

Itulah yang kusebut sebagai wolak-waliking wektu. Waktu bisa membolak balik sesuatu menjadi yang berlawanan dari sebelumnya. Waktu memberi kita perspektif. Waktu adalah penguasa. Ia bisa saja  menjadikan kita sebagai korban di awal namun di akhir membalik diriku sebagai pelaku karena balas dendam yang bengis, apalagi kalau aku diisi dan dikuasi oleh waktu dengan kemarahan yang tak padam. Orang marah adalah orang buta. Orang buta tak bisa melihat. Akibatnya, percuma orang buta diberi nasehat sebaik apapun. Kemarahan harus dihilangkan dahulu baru orang bisa diarahkan. Kebutaan perlu disembuhkan atau setidaknya diterima sehingga jiwa yang marah bisa lebih terarah. 

Sekali lagi waktu memberi kita perspektif apakah seseorang menjadi pelaku atau korban. Apakah korban lalu belas dendam dengan keji? Apakah korban memang tetap menjadi korban selama-lamanya? Itulah yang kemudian patut dilihat lebih dalam, dan itu membutuhkan perspektif dari sang waktu.  Tepat kata pelantun lagu di atas: "Siapakah yang salah? Siapa yang tanggung jawab? Waktu terus berjalan. Terasa salah karena ada yang belum selesai." Selesainya sebuah hal pun akhirnya tergantung waktu. Waktu memang berkuasa. 

Tugas yang tidak mudah bagi siapapun adalah merangkai kembali satu-satu agar yang terpecah itu menyatu lagi. Memang sudah tidak marah namun masih teringat peristiwa itu. Setidaknya kata maaf itu yang perlu diwujudkan, walau menurut Sir Elton John itu kata-kata yang sangat berat (Sorry Seems To Be The Hardest Word, judul lagu juga). Masa depan akan ada bila kita memaafkan. Orang sampai pada sebuah keutuhan memaafkan juga butuh waktu. Maka sekali lagi waktu itu sangat berkuasa. Bertahan itu juga membutuhkan waktu. Bagi yang bertahan, di sana akan ada masa depan. 

Semoga masa depan itu bisa terwujud. Semoga kita diberi rahmat kekuatan untuk menatap dan menapaki masa depan dengan mau bertahan, memaafkan, dan merangkai kembali satu-satu keterpecahan dalam hidup. Mari kita berekonsiliasi secara pribadi, komunal, dan institusional. Semua memang masih penuh harapan, namun bisa diwujudkan.     

#eveningtime#

No comments:

Post a Comment