Thursday, February 19, 2015

Kosong

Kosong atau kusebut juga kekosongan, begitulah yang terjadi di bulan lalu memasuki tahun baru 2015. Aku tak menuliskan ide-ideku ataupun pendapatku atau komentarku atau yang lain. Sebenarnya aku tak mau itu terjadi. Dan bulan lalu itu tak sekosong ideku yang tak termuat di sini. Justru karena bulan lalu itu penuh bergejolak dan pergulatan antara jagad cilik dan jagad gedhe-ku. Bukan maksud aku mau melupakan coretan-coretanku tetapi memang aku tengah menjalani berbagai macam hal yang semua itu membutuhkan ketahanan batin tertentu. Aku baru saja ingat kata-kata seorang Ernest Renan, "Memperhatikan keragu-raguan dalam hidup adalah menghormati adanya kebenaran itu sendiri." Cuplikan itu kudapat dalam novel Romo Rahadi, karya Wastu Wijaya.

Apakah aku sedang ragu? Apakah aku tengah mengalami keragu-raguan itu? Setiap hari bagiku adalah penegasan diri. Setiap tapak hidupku adalah penegasan terus-menerus. Ada kalanya ragu itu terus menyelimuti dan ada kalanya jalan  itu penuh dengan kerikil ragu-ragu. Apakah keraguan itu membuat hidupku berhenti atau tak menentu? Aku memperhatikan hal ini demikian: saat diriku hanya bergulat dengan keraguan, memang akhirnya seperti sebuah kendaraan yang antara berhenti atau berjalan. Saat orang penuh keraguan namun perlahan mengolah dan mendapatkan peneguhan akan kebenaran yang ada, di situlah sebenarnya keraguan adalah saat di mana kebenaran belum tersingkap dan memanggil dirinya untuk menyingkapnya.

Aku belajar untuk jujur pada diriku dan pada orang-orang yang dekat denganku untuk dengan jujur mengungkapkan kebenaran diri. Dalam kehidupan sehari-hari ternyata kejujuran ini banyak kali mendapat perlawanan dari berbagai penjuru. Ketika orang diminta untuk jujur dengan dirinya dan orang lain berkaitan dengan "apa sih maunya", ternyata kebanyakan orang tidak dapat segera mengungkapkan. Pengungkapan diri dalam kejujuran pun di masyarakat kita butuh sebuah institusi pemaksa, seperti KPK misalnya. Karena membongkar ketidakjujuran pun saat ini orang dapat disalahkan karena pada dasarnya manusia itu ingin menyembunyikan dirinya. Kejujuran ternyata sangat amat mahal. Bahkan ini bisa jadi kali kedua pemimpin sebuah institusi yang mau menegakkan kejujuran dipersalahkan. Jujur menjadi barang berharga yang membutuhkan pengurbanan nyawa. Kejujuran dipertaruhkan dalam sebuah panggung kehidupan.

Ya, itulah yang kadang membuatku harus sampai pada taraf memaknai kekosongan kemarin itu dalam konteks diri dan wilayah yang lebih luas. Mungkin tulisanku ini juga tak mudah dimengerti karena mengungkap kebenaran memang tidak mudah. Jujur dengan diri sendiri saja tak mudah apalagi jujur pada khlayak ramai. Orang sudah dipengaruhi dan ditumpuki dengan berbagai kepentingan sehingga kebenaran itu tertumpuki juga oleh kepentingan-kepentingan itu. Kebenaran dipermainkan. Kebenaran dikomersialisasikan. Kebenaran malah juga dikriminalisasikan. Itulah yang terjadi saat ini. Suasananya riuh. Suasana perang dingin, saling balas dendam, mengungkit kasus lama supaya ada perkara. Di sini kejujuran dan kebenaran menjadi ambigu, tidak jelas, tidak segera dapat dipahami. Orang cenderung bersembunyi pada pasal-pasal hukum. Orang memakai kedok apapun supaya ketidakjujuran dan ketidakbenarannya tak terungkap.

Kisah Adam dan Eva yang ditanyai Allah sudah melahirkan saling tuduh dan tak jujur. Kisah Kain dan Habel sudah melahirkan kedengkian dan kecemburuan beranak pinak di bumi ini. Keturunan manusia memang sejak dulu kala terjerat kekuatan jahat yang lebih sering menjerat hidup. "Perempuan yang Kau berikan padaku, dialah yang memberikan buah itu kepadaku," demikian kata Adam ketika ia ditanyai Allah. "Mengapa Kau tanyakan Adikku? Apakah aku penjaga Adikku?", jawab Kain kepada Allah setelah ia membunuh adiknya.


#rainy evening in my room# 

No comments:

Post a Comment