Friday, October 23, 2015

Memilih Orang

Komunitas kami sedang bekerja keras mewakili provinsi untuk sebuah lomba tertentu. Ketika kami sampai ke provinsi dan mendapat juara, maka konsekuensinya adalah maju ke tingkat nasional. Saat penilaian dan persiapan lapangan, kami biasa saja tidak terlalu ngoyo. Namun karena kami harus mempertahankan prestasi dan sudah mewakili provinsi saat ini, kami makin dicecar dengan banyak tuntutan. Salah satunya adalah bagaimana saat presentasi ke nasional, kami tidak seperti di lapangan. Presentator kurang sigap mempresentasikan bahan namun di sisi lain asisten kelihatan malah mengganggu presentator saat presentasi. Banyak hal terjadi di lapangan saat terjadi penialaian. Ada sisi kepentingan ini dan itu. Dan selalu manusia ada dalam  pusaran kepentingan.

Saat itulah, kami diminta untuk menukar/mengganti presentator ketika nanti maju ke tingkat nasional.  Perlu diketahui, kami memang memiliki kelemahan dalam hal personalia. Yang satu kelemahannya adalah pendengarannya. Yang lain adalah tidak bisa fokus dalam bekerja dan berbicara. Ketika di lapangan, yang presentasi adalah personil yang lemah pendengarannya, sehingga ketika juri menanyakan sesuatu, ia kurang dapat memuaskan juri dengan jawabannya. Pihak provinsi meminta saya untuk mengganti dengan yang personil kedua, namun dalam hati saya justru lebih memilih personil pertama walau ia lemah dalam pendengaran tetapi konsep dan dalam presentasi ia masih lebih menguasai. Jika yang diminta adalah yang satunya, kami khawatir justru malah akan merusak suasana karena ketidakfokusannya. Dalam situasi ini, saya banyak merenung dan kurang lebih selama sepuluh hari persiapan ini batin saya harus memutuskan sesuatu.

Awalnya, saya bergulat dengan kekecewaan karena presentator yang satu sudah persiapan dan ternyata ketika hari H malah tidak seperti yang dipersiapkan. Sedangkan ada kendala-kendala tertentu yang harus diperbaiki dan diperhatikan. Di sisi lain, ada tekanan dari provinsi untuk mengganti presentator yang satunya dengan yang kedua. Batin semakin tak karuan. Dua hari tak dapat tidur nyenyak. Saya harus cari pendapat dan meminta ide dari berbagai pihak, rekan, wakil-wakil dan sebagainya. Permenungan saya adalah jika saya mengganti dan menuruti pihak provinsi, sedang saya harus mengalah dari ego saya, saya tetap merasa tidak nyaan. Sedang kalau saya tetap memakai presentator pertama, saya tidak menuruti tuntutan provinsi. Hampir saya mengganti karena saya menemukan permenungan ini: "Bisa jadi saya harus rendah hati merelakan kepentingan diri saya karena ini bukan lagi kepentingan komunitas tetapi kepentingan provinsi." Namun di sisi lain saya masih belum tenang dan menerima karena saya condong memilih dan mantap dengan presentator awal dengan syarat diperbaiki dan dilatih keras untuk maju ke tingkat nasional.

Hari berikutnya ada telepon dari provinsi yang menanyakan kesiapan dan siapa yang akan maju presentasi. Nama yang saya berikan tetap yang pertama. Walau pada awalnya, kami akan melatih kedua nama itu dan dipilih salah satu yang lebih baik. Namun situasi mengatakan lain, karena kami harus menentukan dengan cepat siapa yang harus maju dan tiket segera harus dibooking. Akhirnya pihak provinsi saya beri penjelasan: "Kami tetap mempertahankan yang pertama karena pertama, kami yang lebih kenal siapa mereka; kedua, yang kedua memang sering lebih aktif saat di lapangan tetapi ia seorang pekerja dan bukan presentator (konseptor) yang dapat fokus merangkai idenya. Termasuk yang "merusak" presentasi awal adalah pihak kedua yang tiba-tiba intervensi." Ternyata alasan saya ini masuk akal dan kuat dan dapat diterima provinsi.

Akhirnya saya lega dan dinamika kemudian adalah persiapan. Kami merancang bahan presentasi. Bahan yang sudah ada diperbaiki. Cara presentasi diperbaiki. Saya harus berbicara secara pribadi dengan personil-personil yang bersangkutan termasuk membesarkan hati agar tidak jatuh mentalnya dan juga merasa tetap dilibatkan dalam proyek ini. Saat ini bukan lagi untuk iba dan "melo" tetapi justru menghadapi situasi real yang harus cepat.

Saya belajar bagaimana cura personalis, mengenal sisi pribadi, mengajak bicara dari hati ke hati dengan banyak pihak. Saya juga harus belajar rendah hati seandainya tuntutan provinsi masih bersikeras dengan penggantian pihak presentator. Di sisi lain saya juga belajar discernment, menentukan mana yang sebenarnya akan diperjuangkan. Akhirinya juga bagaimana usaha itu tetap dijalankan sekuat mungkin dan hati tetap pasrah (lepas bebas) nanti mau mendapatkan apa. It's meaningful for me because how to see the problem is the problem. Seperti doa Salomo saat harus memutuskan apakah akan membagi dua bayi yang diperebutkan itu atau seperti apa, ia hanya meminta kepada Allah hati yang bisa memahami, hati yang bijaksana sehingga dapat memilih mana yang baik dan mana yang buruk. Keputusan akhirnya menentukan hidup mati si bayi.



Evening @my room

No comments:

Post a Comment