...................................................
"Adakah keadaan yang demikian ini yang kita kehendaki? Saudara-saudara, saya usulkan: Kalau kita mencari demokrasi, hendaknya bukan demokrasi barat, tetapi permusyawaratan yang memberi hidup, yakni p o l i ti e k - e c o m i s c h e democratie yang mampu mendatangkan kesejahteraan sosial! Rakyat Indonesia sudah lama bicara tentang hal ini. Apakah yang dimaksud dengan Ratu Adil? Yang dimakksud dengan faham Ratu Adil, ialah sociale rechtvaardigheid. Rakyat ingin sejahtera. Rakyat yang tadinya merasa dirinya kurang makan kurang pakaian, menciptakan dunia-baru yang di dalamnya a d a keadilan di bawah pimpinan Ratu Adil. Maka oleh karena itu, jikalau kita memang betul-betul mengerti, mengingat mencinta rakyat Indonesia, marilah kita terima prinsip hal sociale rechtvaardigheid ini, yaitu bukan saja persamaan p o l i t i e k, saudara-saudara, tetapi pun di atas lapangan e k o n o m i kita harus mengadakan persamaan, artinya kesejahteraan bersama yang sebaik-baiknya. Saudara-saudara, badan permusyawaratan yang kita akan buat, hendaknya bukan badan permusyawaratan politieke democratie saja, tetapi badan yang b e r s a m a d e n g a n m a -s y a r a k a t dapat mewujudkan dua prinsip: politieke rechtvaardigheid dan sociale rechtvaardigheid."
Itu adalah kutipan dari pidato Soekarno yang mengawali pembentukan dasar negara yaitu Pantjasila. Aku mendapatkannya ketika hari peringatan lahirnya Pancasila 1 Juni 2020 lalu. Dua bagian itulah yang menarik bagiku dan mendasari tulisan ini karena ada ideologi dan sekaligus realitas yang bertolak belakang dari apa yang dicita-citakan pendiri bangsa.
Realitas yang terjadi sering kali yang kulihat adalah bahwa cita-cita itu tak selalu mudah diwujudkan. Para pendiri bangsa menginginkan kemerdekaan yang memang ideal. Cita-cita itu ideal. Bangsa ini mengalami saat di mana pemimpin itu orator, ada yang pembangun, ada juga yang tidak berbuat apa-apa, dan sebagainya. Kerja untuk menyejahterakan rakyat sering tidak konsisten dan selalu saja ada tantangan. Tantangan dari berbagai pihak, tantangan dari berbagai situasi dan sebagainya itulah yang sering menjadi tidak mudahnya cita-cita itu terwujud.
Ketika bulan puasa lalu, aku hanya bisa memandangi "orang miskin" dadakan dan musiman. Mereka kuanggap tanda kutip karena dikondisikan. Mereka menunggu di pinggir jalan pada jam tertentu yang biasa dilewati banyak orang dan ada pembawa makanan bagi mereka di sepanjang bulan puasa itu. Pertanyaanku adalah apakah mereka itu diobjekkan sehingga mereka rela menjadi objek yang diberi terus? Apakah tidak ada cara lain memberi secara lebih bermartabat dari sekedar membuat orang lain itu tergantung dan menjadi "kere musiman" seperti itu? Alasan pandemi ini tidak berlaku bagi mereka yang tergantung. Memang di awal pandemi ada bantuan kepada mereka yang tidak bisa kerja atau putus hubungan kerja atau memang tidak bisa optimal kerjanya sehingga butuh bantuan dari pihak lain, termasuk negara dalam hal ini. Namun ketika melihat kaum miskin kota yang "terkondisi" itu akhirnya koq aku perlu bertanya kritis. Entah pertanyaanku ini sudah pernah kutulis, atau belum, aku merasa ada sesuatu yang salah dan perlu diperbaiki dalam hal ini.
Aku tidak tahu dan tidak mau menyalahkan siapa dan apa tetapi mau mengajak melihat lebih jernih kondisi dan situasi ini. Apakah kita hanya ingin membantu dan membantu orang lain tetapi tidak memikirkan efek lanjutannya? Artinya, apakah membantu hanya demi membantu saja? Tidak memikirkan bahwa sering ada mentalitas yang memanfaatkan hal ini yaitu ketergantungan? Atau malah justru kebalikannya, apakah bantuan itu memang mau membuat pihak lain menjadi tergantung? Ketika orang tergantung, pihak yang membantu itu bisa memanfaatkan dengan menguasai dan terus menanamkan mentalitas tergantung supaya bisa mengontrol dan menguasai. Itu sama saja dengan kooptasi dari yang kuat kepada yang lemah supaya yang lemah jadi tergantung dan tak berdaya terus.
Kecurigaanku adalah orang menjadi tak sadar ketika hanya menjadi pelaku dari sebuah rutinitas sistemik dan tanpa pemaknaan yang cukup yaitu membantu orang lain (motivasi baik) namun kurang disadari makna mengenai membantu itu sendiri. Membantu yang sehat adalah membantu tanpa pamrih, membantu dengan tujuan memerdekakan dan memberdayakan. Jika membantu itu ada pamrihnya, bahkan dengan pamrih pahala yang diajarkan oleh lembaga agama sekalipun, bagiku itu sebuah tindakan yang melanggengkan ketergantungan. Ketergantungan artinya keterbelengguan. Keterbelengguan artinya tidak memerdekakan. Bagaimana orang merdeka dikondisikan terjajah oleh mentaltas ketergantungan? Ini yang bagiku tidak bisa terima dengan situasi seperti ini. Aku hanya bisa mewacanakan dalam tulisanku ini, namun belum bisa membuat terobosan macam apa yang seharusnya dibuat oleh sekalian dari kita yang terlibat di dalamnya.
Hal itu sama sekali tidak sesuai yang dipidatokan alias dicita-citakan pendiri bangsa ini. Manakah keadilannya? Manakah sisi kemanusiaan yang semu itu membantu memerdekakan rakyat yang lapar? Manakah sisi tindakan yang baik jika efeknya malah membelenggu dan membuat tergantung? Cita-citaku juga sama seperti idealnya para pendiri bangsa yaitu tidak ada lagi kemiskinan bahkan mentalitas "kere" sekalipun. Jika ada pihak yang justru melanggengkan ketergantungan dengan kedok memberi bantuan, bahkan yang sifatnya karitatif sekalipun dan itu justru membuat orang tak berdaya, tergantung, terbelenggu dan dijajah, maka itu adalah pelanggaran serius terhadap cita-cita pendiri bangsa ini. Apakah kita hanya sekedar menerima slogan "orang miskin akan selalu ada padamu". Atau kita harus membantu mereka yang berkekurangan tanpa memberi daya bahwa mereka pun pada dasarnya berdaya.
Memang pada akhirnya atau ujung-ujungnya adalah struktur. Apakah struktur sosial kita itu berkeadilan? Apakah struktur relasi, ekonomi, sosial, budaya, dan sebagainya itu sudah adil? Adil yang mengatakan bahwa ada kelas ini dan itu, ada kasta ini dan itu, ya akhirnya kita kembali pada tatanan yang perlu diberi kesadaran dari dalam bahwa manusia itu lahir merdeka. Setiap ciptaan ini merdeka sejak lahirnya. Oleh karenanya, struktur itu perlu memberi penghargaan pada kemerdekaan tiap pribadi agar tidak tergantung secara penuh, "njagake", mengkondisikan secara struktural bahwa ada orang yang harus dipertahankan mentalitasnya supaya kegiatan membantu itu tetap terjadi. Kadang orang menyebut orang miskin itu dengan sebutan "mereka yang kurang beruntung." Apakah ini soal keberuntungan? Apakah hidup di dunia ini soal untung dan rugi? Apakah hidup itu seperti permainan dadu, mana yang untung dan mana yang tidak? Mereka yang beruntung adalah mereka yang dekat dengan akses kekuasaan sehingga saluran fasilitas itu mudah. Bukankah ini adalah soal aksesibilitas terhadap fasilitas? Oke lah kalau itu soal struktur, lalu bagaimana dengan perlakuan kita? Apakah dengan membantu itu kita memperlakukan orang lain sebagai pribadi yang berdaya? Bukan pribadi yang diperdaya? Agama menciptakan ajaran supaya memberi bantuan kepada mereka yang miskin. Kultur budaya menciptakan kasta tinggi dan rendah. Sistem dalam lembaga ada bagian-bagian yang fungsinya tertentu dan saling melengkapi.
Pertanyaanku selanjutnya adalah apakah ada fungsi lembaga negara yang tidak berjalan dengan baik? Ada departemen sosial. Apakah mereka ini tidak bisa membuat sistem yang manusiawi dan bermartabat untuk menata, mengelola, dan mewujudkan bantuan sosial yang lebih baik sehingga tidak terjadi kemiskinan struktural? Jangan-jangan departemen hanya sebatas departemen namun tidak ada kerja dan gerak fungsi yang selayaknya dikerjakan.
Kalau itu semua adalah soal saling melengkapi dan memberi dukungan, perlakuan masih bisa jadi jalan keluar untuk itu. Selain itu adalah kesadaran dan penghargaan terhadap daya dan memberi ruang pada yang lain itu yang kutemukan supaya tidak ada penyalahgunaan otoritas yang bisa menyebabkan penjajahan, ketergantungan, dan ketidakberdayaan. Banyak tokoh sudah membuktikan itu dan biasanya pemberdayaan mulai dari penyadaran akan banyak dilawan oleh kekuasaan yang tidak suka terhadap daya hidup dari setiap makhluk. Contohnya banyak. Ada Paulo Freire, Mangunwijaya, Dorothy Day, Uskup Romero, dan para pejuang pemberdayaan. Dom Helder Cammara, seorang uskup di Racife, Brazil pernah mengatakan “When I feed the poor, they call me a saint, but when I ask why the poor are hungry, they call me a communist." Sungguh tragis dunia dan strukturnya jika masih seperti yang dikatakan oleh Dom Helder Camara itu.
#at noon time#

No comments:
Post a Comment