Saturday, April 11, 2020

Ketika (Sapiens) Harus Memperlambat Diri

Saat ini adalah saat-saat yang bagi kebanyakan orang yang nota bene adalah spesies homo sapiens (selanjutnya ditulis sapiens) tidak mudah dialami. Sapiens ini dipaksa untuk berhenti. Memang tidak semua lantas berhenti total. Ada yang mempunyai kebijakan lock down total alias semua tidak beraktivitas normal. Ada yang memberlakukan PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar). Ada banyak kemungkinan untuk tidak beraktivitas normal seperti biasa spesies ini lakukan dengan kemajuan yang dicapainya. Intinya saat ini sapiens hanya berfokus pada tiga kebutuhan pokok saja. Kalaupun ada tambahan paling kebutuhan untuk komunikasi: maka kebutuhan pulsa dan wifi adalah penting.
Kebutuhan lain "sementara" ditiadakan dulu. Ini gara-gara si virus corona alias covid-19. Serentak seluruh sapiens di muka planet bumi ini sedang "berhenti", tidak banyak bergerak sebagaimana biasanya.

Banyak hal bisa kita kupas tentangnya. Entah itu tentang kemunculan virus ini. Entah tentang efeknya. Entah tentang karakternya walau si sapiens juga belum bisa menanggulanginya secara total atau setidaknya 90% bisa melawan si virus ini. Namun demikian angka tahun 2019 tepatnya di akhir tahun menjadi angka kemunculannya. Efeknya ke angka tahun 2020. Orang bisa melihat banyak hal akhirnya. Namun ada juga yang masih melihat wabah ini sebagai bencana semata. Setidaknya yang kualami, orang tidak diperkenankan berkumpul dalam kermunan, orang mulai menjadi kuatir dengan sesamanya apakah atau jangan-jangan orang ini adalah pembawa virus, jangan-jangan orang itu pernah bepergian ke luar kota atau ke luar negeri sehingga membawa penyakit. Sapiens ada dalam alam kecurigaan satu dengan yang lain. Bahkan ada beberapa kelompok yang menstigmatisasi sesamanya bahwa mereka yang meninggal gara-gara covid-19 ini adalah pantas ditolak. Ada berita berkumpulnya orang-orang kaya setelah ada pengumuman dari pemerintah untuk tidak mengadakan acara yang melibatkan banyak orang lalu ada 4 orang yang mati dari mereka yang mengadakan acara itu lalu dijadikan alasan untuk membuat stigmatisasi sesamanya.

Persoalan ini akhirnya persoalan sapiens seluruh dunia. Ada yang saling menyalahkan gara-gara banyak yang makan kelelawar karena kelelawar itu pembawa virus maka ketika banyak dimakan sapiens maka virus itu hidup di inang yang lain yaitu sapiens. Ada yang juga menyalahkan bahwa virus ini muncul karena ada percobaan senjata biologis antar kelompok tertentu. Entah mana yang benar, aku juga belum tahu kepastiannya. Bisa jadi karena ulah sapiens, maka suhu tertentu di planet bumi ini memungkinkan hidupnya virus baru.

Di antara sekian masalah yang dialami oleh sapiens, akhirnya berujung pada hal-hal yang kaitannya pada kelompok hidup sapiens sendiri, di antara keluarga mereka. Tentu, sapiens yang mempunyai akal dan nurani ini mengalami berbagai hal, antara lain cemas dengan keluarganya yang berada di jauh dan tidak bisa bersama, cemas karena tidak bisa membantu pangan atau tempat berteduh ketika ingat saudaranya yang lain, sedangkan situasi serba tidak normal. Kecemasan akan terjadi dan membentuk pola perilaku di antara para sapiens. Berbagai pola kerja dan lembaga yang didirikan sapiens pun akan mengalami perubahan. Lembaga agama harus mengoreksi diri dan harus bisa memberi pelayanan di masa pandemi ini. Tata laksana berdoa pun berubah. Gereja, mesjid, pura, vihara tidak akan dikunjungi kerumunan sapiens lagi. Sekolah tempat negerasi mudah sapiens belajar sepi karena semua harus di rumah. Belajarnya dengan cara daring atau online. Tempat-tempat kerja perkantoran yang administratif bisa dengan cara online.

Institusi keluarga sapiens diuji di dalam situasi ini karena di sana tempat berkumpul sebagai ganti tempat berdoa, bekerja, dan sekolah. Di sisi lain keluarga sebagai kumpulan pribadi-pribadi yang mencurahkan dirinya bagi yang lain pun juga diuji. Bagaimana keluarga sebagai institusi yang meneruskan generasi sapiens diuji, bagaimana keluarga sebagai kelompok sapiens yang punya tetangga harus berelasi dan tidak menolak mereka sebagai musuh juga diuji, apalagi ketika mereka terkena pandemi ini. Bagaimana solidaritas lahir dari keluarga sapiens di tengah pandemi ini? Ini juga menjadi pertanyaan besar bagi sapiens.  Dari keluarga, sapiens mempunyai relasi intim. Dari keluargalah sapiens belajar menalar. Dari keluargalah, sapiens belajar bekerja. Dari keluargalah, sapiens belajar solider. Ada juga relasi sapiens dalam keluarga yang berjarak sejak awalnya. Sapiens juga bisa belajar sebaliknya dari yang disebut di atas mulai dari keluarga. Sapiens perlu mendefinisi ulang arti kedekatan ketika distancing itu dibutuhkan.

Yang tidak bisa dikerjakan online sementara ini adalah distribusi barang dan jasa. Ini semua masih memakai tenaga sesama sapiens. Nah, mungkin suatu saat, sapiens harus menciptakan robot untuk distribusi ini. Jika virus ini tidak bisa ditaklukkan atau bahkan menguasai bumi ini, tentu sapiens harus cari cara agar tetap survive. Intinya virus ini supaya tidak menyebar adalah sapiens tidak saling sentuh dan menulari dengan droplet dari yang menderita/membawa virus. Mereka yang kerja harian dan mendapat upah dari hari demi hari itulah yang juga terdampak. Oleh karena itu, tentunya antar mereka pun sapiens harus berpikir. Negara sebagai jaringan sah dan mempunyai otoritas sebagai kumpulan sapiens dengan batasan tertentu pastilah membuat rancangan kerja supaya kalangan pekerja harian ini masih bisa hidup ketika tidak ada pekerjaan yang menghasilkan upah. Ini adalah situasi tidak normal.

Aku bisa memaklumi bahwa ada kalangan sapiens tertentu yang marah atau tidak puas dengan otorita negaranya karena koq tidak segera bisa menghentikan penyebaran pandemi ini. Merasa harus ada kekuatan super power yang serta merta menyelesaikan masalah. Merasa seperti harus dibuat sistem totalitarian seperti komunis internasional yang semua harus tunduk pada satu otoritas kejam dan tangan besi supaya semua bisa efektif tertangani. Antara kelompok negaranya sapiens satu dengan yang lain itu berbeda-beda. Tidak bisa menyamakan negara ini dengan negara itu. Yang sudah lock down saja seperti India akhirnya menyerah karena kekacauan muncul, maka kebijakan lock down dihapus. Ada negara-negara yang mampu untuk lock down karena siap sistemnya dan siap masyarakat sapiensnya.

Yang tidak bisa dipungkiri adalah bisa jadi semua sapiens akan kena virus ini sebagai carier sehingga ada herd immunity. Seperti layaknya virus-virus lain, virus ini akan hidup di tubuh specises sapiens namun sapiens tidak sakit dan sampai pada kematian. Akan terjadi seleksi alam sebagaimana teori Darwin alias survival of the fittest. Ini adalah masa seleksi kalangan sapiens yang kuat dan tidak kuat menghadapi virus ini. Oleh karena itu di masa depan, terbentuk jenis spesies sapiens baru yang kebal dengan virus ini.

Sisi lain adalah bahwa dengan kurangnya aktivitas sapiens di planet bumi ini maka planet ini sedang memperbaiki diri dari kerusakan, entah itu ozone di atmosfer, entah itu sumber mineral dalam kandungan bumi, entah itu komunitas-komunitas binatang yang mulai merasakan kesehatan suasana alam ini sehingga mau keluar dari persembunyiannya. Banyak indikatornya. Dan inilah evolusi cerdas dari fenomena covid-19 yang memaksa sapiens untuk berubah. Berkurangnya pesawat terbang yang hilir mudik di udara setidaknya menyehatkan atmosfer. Berkurangnya kendaraan dan kereta darat menyehatkan juga karena tidak ada polusi. Air kembali bersih karena limbah sedikit.

Aku tidak tahu apa yang ada dalam rencana di otak sapiens. Setidaknya adalah ingin supaya virus ini pergi dan dikalahkan. Tujuannya: supaya pola hidup lama berjalan kembali. Aku menyebutnya sebagai pola hidup lama karena banyak dari sapiens itu ingin yang dulu terus. Mereka tidak bisa kuliner. Mereka tidak bisa traveling. Mereka tidak bisa nongkrong. Mereka ternyata tidak tahan untuk tidak mengerjakan hal-hal itu.

Selayaknya sapiens harus berpikir dan menemukan pola hidup baru. Tadi aku sempat mengatakan di atas bahwa sapiens harus menemukan cara pendistribusian bahan pangan dan yang lain dengan robot yang dikonrol jarak jauh. Kebutuhan online harus didukung dengan infrastruktur yang layak yaitu bayanganku seluruh atmosfer bumi adalah wifi. Semua sapiens itu bisa mengakses internet dengan ID password namun tidak lagi tergantung mana akses poinnya. Setiap negara punya akses poin. ID adalah KTP dan di situ sudah ada personal password. Bukankah sapiens sudah mempunyai kemampuan membuat robot dan komputer? Bukankah ini bisa dikembangkan ke dalam teknologi yang lebih maju? Biarlah covid ini hidup dan tidak perlu dimusuhi. Biarlah binatang dan tumbuhan hidup dengan ekosistem di planet bumi ini. Sapiens harus hidup berdampingan dengan spesies lain dengan cara baru. Sapiens maju, spesies lain juga hidup dengan kemajuannya sendiri.

Semoga harapanku ini menjadi terwujud mengikuti arus besar Nalar Abadi yang bisa membuat semua evolusi ini tetap ada.  Nalar Abadi yang memungkinkan semua binatang berevolusi tanpa disakiti oleh ulah sapiens atau tumbuhan berkembang biak dan berevolusi tanpa harus mengalami kepunahan karena rakusnya sapiens. Biarlah juga sapiens menjadi tahan untuk mengambil jarak satu dengan yang lain tanpa mengurangi kedekatan afektif satu dengan yang lain sehingga karenanya semua makhluk bersinergi di planet bumi ini. Semoga.

Aku sematkan lyrics lagu dari salah satu sapiens bernama Bette Midler, "From a Distance", ketika ingat akan segala macam hal yang terkait dengan distancing beberapa waktu ini dan kita juga bisa mendengar lagu itu dari link yang tertera di bawahnya:

From a distance the world looks blue and green
And the snow capped mountains white
From a distance the ocean meets the stream
And the eagle takes to flight
From a distance there is harmony
And it echoes through the land
It's the voice of hope
It's the voice of peace
It's the voice of every man
From a distance we all have enough
And no one is in need
And there are no guns, no bombs and no disease
No hungry mouths to feed
From a distance we are instruments
Marching in a common band
Playing songs of hope
Playing songs of peace
They are the songs of every man
God is watching us
God is watching us
God is watching us from a distance
From a distance you look like my friend
Even though we are at war
From a distance I just cannot comprehend
What all this fightings for
From a distance there is harmony 
And it echoes through the land
And it's the hope of hopes
It's the love of loves
It's the heart of every man
It's the hope of hopes
It's the love of loves
This is the song for every man
God is watching us
God is watching us
God is watching us from a distance
God is watching us
God is watching 
God is watching us from a distance

https://www.youtube.com/watch?v=lN4AcFzxtdE



#Sore hari diiringi rintik hujan-dari kamarku#

No comments:

Post a Comment