Saturday, January 4, 2014

Anak-anak itu

Entah mengapa, ketika memasuki sebuah "barrio" (dusun) di pedesaan pegunungan Cordeliera, yang bernama Ullaga, aku begitu cepat akrab dengan anak-anak. Aku heran sendiri saat malam pertama di dusun itu. Koq bisa aku cepat akrab dengan anak-anak? Selama ini aku merasa asing dan kadang jauh dari anak-anak. Apakah aku tidak menakutkan lagi? Apakah selama ini aku "jaim" dan kurang bisa bergaul dengan anak-anak? Memang selama ini aku banyak berinteraksi dengan para remaja. Anak-anak kadang kurasakan jauh. Keponakanku sendiri saja baru bisa dekat akhir-akhir ini.

Aku merindukan suara mereka. Aku merasakan kedekatan hati dan emosi. Ketika mereka mencoba menyapaku dengan malu-malu, mereka melihatku dari kejauhan. Ada yang mencoba mendekat. Ada yang kadang mau difoto tetapi ada yang malu-malu. Gadis-gadis kecil Ullaga itu menggodaku sebagai orang asing, tamu bagi mereka tetapi koq kadang ada kesamaan dengan mereka. Yah, beberapa kata dalam dialek Kalinga dan Ilocano ada di bahasaku dan dialekku, Indonesia dan Jawa. Lucunya, ketika kujelaskan kata "weteng" (Jawa) yang artinya perut mereka tertawa terbahak-bahak, bahkan orangtua mereka ikut tertawa karena "weteng" bagi mereka berarti makan daging dengan menggigit seperti makan paha ayam yang dipegang tulangnya dan digigit dan ditarik ke samping dengan penuh nafsu. Itulah arti kata "weteng"  bagi mereka.

Dari belajar membandingkan kata demi kata, aku mendengar kata yang sama: "Udan"(hujan), "Lintah" (lintah), "Musang" (musang), "Isna" (nasi), "Asahan"(pengasah pisau), "Sabun" (sabun), "Pinggan"(piring), "Kasianakami" (kasihani kami), dan lain-lain. Namun ketika bercakap, kami memang harus memakai bahasa asing yaitu Inggris. Anak-anak senang membagikan dan membandingkan kata demi kata yang kita punyai masing-masing. Yang aku rindukan lainnya adalah ketika mereka menyanyi dan bersenandung bersama, aku merasakan kegembiraan dalam kebersamaan. Kebersamaan seperti ketika mereka bermain dengan rekan-rekan mereka.

Di daerah terpencil, mereka tumbuh. Di daerah yang sepi, mereka bersaudara. Di daerah pegunungan, hanya ada sawah, sungai, hutan, mereka menari, bernyanyi, berdendang. Itulah suasana pedesaan tradisional yang sungguh menyejukkan. Membuatku merasa rindu dengan mereka. Aku merindukan suasana dengan anak-anak kecil yang suka bernyanyi itu. Walaupun mereka sederhana, namun di sanalah kurasakan kedamaian. Walaupun mereka mungkin jauh dari keindahan alam kota yang hiruk pikuk dandanan, namun di sanalah kurasakan keindahan dan kecantikan dari dalam diri mereka.

"Gadis-gadis kecil Ullaga, aku merindukan kalian. Aku merindukan tawa kalian. Aku merindukan nyanyi kalian. Aku merindukan guaruan kalian. Aku merindukan suara-suara kecilmu di antara bukit-bukit dan aliran sungai di kejauhan. Aku merindukan senandungmu yang membawa damai di hati. Yang aku renungkan dari kalian adalah ketulusanmu, ceriamu, kepolosanmu, tarikan tanganmu yang menahanku untuk pergi. Rasa itu membawaku pada sebuah harapan, semoga kalian akin menjadi anak-anak zaman yang terus bersenandung, ceria dan bersuara di antara deru kehidupan."



#Hzikia dalam ingatan dan kenanganku#

No comments:

Post a Comment