Saturday, January 4, 2014

Menjadi Satu

Hari-hariku di awal Desember tahun lalu sampai akhir merupakan sebuah perjalanan. Perjalanan yang bukan sekedar jalan tetapi naik-turun bukit, pegunungan, lembah, ngarai, sawah, hutan, menyusur sungai. Aku rupanya belajar berjalan kembali setelah tahun-tahun saat ku kecil aku mulai mencoba merangkak, berdiri, dan belajar berjalan. Kembali aku merasakan latihan itu.


Ya, perjalananku kali ini bukan hanya sekedar belajar berjalan dari satu tempat ke tempat lain tetapi aku membawa misi mencoba melayani banyak orang dengan bersama mereka dan mengajak berdoa. Aku ada di antara mereka karena mereka mempunyai tradisi sembahyang sebelum Natal, kalau di tempatku seperti novena, 9 hari berturut-turut. Namun di sini mereka menyebut "simbang gabi", sembilan hari doa, aguinaldo (kata Spanyol), sembahyang di pagi hari bersama dengan kokok ayam. Itulah tradisi mereka.

Aku bukan mau memfokuskan pada sembahyang itu. Yang ingin kubagikan adalah pengalaman "menjadi satu" dengan mereka dalam makan, tidur, masak, mandi, berternak dan sebagainya. Aku memang tidak lama di antara mereka namun cukup memberi gambaran bagiku bahwa pengalaman bersama mereka, menjadi satu dengan mereka adalah sebuah pengalaman incarnatoris yang tak terlupakan.

Ada kelelahan tak terkira. Ada luka di sebagian tubuh karena lecet. Ada rasa ngilu di kaki karena jalan lama. Namun ada suka di antara duka itu. Pernah suatu pagi di Gaang (sebuah desa), aku menulis demikian: "Mungkin ketika pertama kali melihat aktivitas sehari-hari orang desa Gaang, Lubo, Dacalan, akan merasa jijik karena aktivitas di luar rumah mereka bercampur dengan aktivitas babi, anjing, ayam, bebek yang berkeliaran. Seperti aktivitas pagi ini, beberapa perempuan mencuci perabot rumah tangga di salah satu pancuran di sekitar rumah mereka. Babi ikut minum air yang dipakai. Pakaian mereka cuci di situ. Babi besar, sedang dan kecil berkeliaran menemani mereka. Kotoran babi ada di mana-mana. Tetapi anehnya mereka tetap hidup dan survive seperti kebanyakan orang yang hidup. Mulut babi bisa masukdan minum dari panci yang mereka cuci…"

Sekalumit pemandangan dari kesan jijikku aku tuliskan di bukuku. Itulah yang aku sebut menjadi satu. Yah, karena situasi mereka sedikit polusi. Mereka masih hidup dalam alam organik (kalau orang sekarang menyebutnya), tradisional hidup mereka. Namun dari situlah, aku merasakan kedekatan dengan alam. Kekhawatiranku, rasa jijik menjadi hilang ketika hidangan hangat, kopi panas, nasi mengepul asap tersedia di meja. Aku tidak mau menjadi jijik lagi. Aku bersantap bersama mereka, makan dengan sendok alami yaitu tangan. Dengan jari-jari tangan, kurasakan nikmat alami bersama mereka. Itulah salah satu keindahan "menjadi satu".

Rasa capai dan kesakitan di badan menjadi hilang kala aku berserah dan menyatukan diri dengan mereka. Artinya, aku juga menyatukan diri dengan alam. Alam memberi kenikmatan. Alam memberi keindahan. Alam memberi makanan. Alam memberi penyembuhannya.




Terima kasih keluargaku dari Taloctoc, Mangali (Guilguila, Ullaga, dan Mantopman, juga Angacan dan Bail), Lubo, Gaang, dan Dacalan yang telah memberiku tumpangan, makan, dan hiburan dalam kesederhanaan, kesunyian namun mewah persahabatan, persaudaraan dan kemurahan hati bagi tamu yang berkunjung. Aku dihormati di antara mereka. Tidak ada sesuatu yang lebih indah daripada hidup yang berbagi dan menghormati satu sama lain.




# Quezon City, setelah perjalanan di Pegunungan Utara Luzon #

No comments:

Post a Comment