Aku menyebutnya "peziarah". Di tanah yang bergunung, berbukit-bukit itulah para peziarah menapaki hidupnya. Daerah Tabuk, Provinsi Kalinga, Luzon Utara, para peziarah itu berkarya. Aku menyebutnya peziarah, para Paderi, "Padi" dalam logat Ilocano, "Pare" dalam logat Tagalog. Tidak banyak paderi yang berkarya di tanah ini. Tanah yang masih peka dengan masalah konflik antar suku. Tanah yang membawa kurban darah beberapa paderi di masa lalu.
Ya, aku melihat para paderi yang telah berkarya sekian lama di tanah misi ini begitu mengagumkan. Tidak banyak hasil yang gemilang tetapi semangat luar biasa itulah yang aku kagumi. Pegunungan Cordeliera yang masih hijau, tanah masih alami. Kadang kulihat beberapa tempat masih terjadi longsor. Ketika berjalan 6 jam !!! di hari pertamaku, aku hampir saja jatuh dalam jurang….!!!! Untungnya ada akar pohon yang bisa kupegang, dan jalanku pelan-pelan. Menjalani hidup dalam peziarahan lahir dan batin. Itulah yang aku alami bukan hanya bayangkan. Sekian "Paderi" yang berkarya di daerah ini berkarya, mempersembahkan dirinya bagi sekian banyak orang yang tinggal di pegunungan. Masih ada bahaya mengancam. Masih ada perang antar suku. Masih ada jerih lelah yang harus dijalani. Jerih lelah bukannya menjadi hambatan tetapi tantangan dan anugerah hidup.Mencoba merengkuh hidup orang-orang dari barrio ke barrio (dusun). Mencoba menyapa setiap wajah yang dijumpai di jalan terjal. Mencoba berbincang dengan orang di sawah saat menanam, memetik kopi, ngobrol dan minum kopi dengan mereka-mereka yang menawarkan tumpangan tidur saat hari sudah mulai senja. Itulah yang dilakukan para "Pad(er)i" di tanah Kalinga. Tak mudah tetapi juga tak sulit. Selagi masih ada hati yang mau berbicara dan memberi ruang, rasanya masih ada jalan untuk suatu kehidupan bersama.
******
Di pegunungan ini pula, sentimen perlawanan masih terasa. Perlawanan karena pusat hanya memakai mereka di pelosok sebagai ajang kampanye dan berjanji: "janji tinggal janji". Jalan hanya menjadi jalan "janji-janji" karena selama ini tidak ada realisasi cepat. Tanah mereka jauh dari akses kendaraan. Kendaraan khusus yang dapat sampai di barrio-barrio itu. Jalan lingkar ke ibukota provinsi hanya ada seminggu sekali kalau lancar dan cuaca baik. Itu pun harus ditempuh dalam waktu 3 jam sekali jalan!(one way). Ada yang mengatakan: "Kampanye sering masuk keluar daerah kami. Mereka hanya berkata dengan lantang, "kami akan buatkan jalan, walau tidak ada jembatan. Kami akan buatkan jembatan walau tidak ada sungai…!" " Itulah lucunya. Janji itu tak terealisasi karena yang terucap tak sesuai dengan realitas di lapangan. Tak mengherankan gerakan-gerakan perlawanan masih bergerilya dan bercampur dengan penduduk di pegunungan.
******
Peziarah yang lain adalah para penduduk yang hidup di situ. Mereka adalah para peziarah yang tak kenal lelah naik turun gunung. Ke kota hanya seminggu sekali untuk cari barang-barang kebutuhan hidup karena mereka harus jalan selama 4 jam minimal dari daerah mereka terdekat ke kota. Yang lain bisa 9 jam ! Jalan kaki! Itulah mereka para peziarah yang hidup di pegunungan. Itulah mereka yang dengan situasi hidupnya menjalani perjalanan dari waktu ke waktu. Kaki mereka telah mengatakan bahwa hidup kami tak menyerah oleh kesulitan hidup. Kami masih bisa berjalan dari bukit ke sungai ke sawah dan ke kota bahkan! Itulah para peziarah hidup. Aku banyak belajar dari mereka.
And I just wanna say that life is a journey, pilgrimage. In this writing I reflect myself after walking up and down hills, in the mountainous area. I learn many things there. I learned from the people, from the difficulties. There are loneliness, suffering, inaccessible place by car, problems etc. But the spirit of mission conquered everything.
Larut malam di 504#

"Bahkan saat-saat sulit, kesepian pun rasanya tak ada yang bisa mengalahkan rahmat Tuhan dalam diri seseorang bahkan seorang Pad(er)i".
ReplyDeleteSipp Padre! Selamat tahun baru.