Friday, January 31, 2025

Anak dan Waktu

Tidak terasa bahwa saat ini sudah di penghujung bulan di tahun ini, yang katanya sudah tahun baru. Aku pun tak merasakan bahwa waktu berjalan lambat. Rasanya cepat berlalu dan tiba-tiba sang waktu menyergap sedemikian rupa sehingga hari ini tibalah di penghujung waktu. Anak manusia sering tak sadar akan perjalanan waktu ketika dirinya tak menghentikan sejenak aktivitasnya. Aku menulis ini adalah sebuah cara menghentikan "sang Chronos" yang sering memakan anaknya sendiri jika tidak sadar diri. Peristiwa demi peristiwa telah berlalu dan teralami. Namun kadang itu tak punya bunyi apa-apa karena kita sering tak sadari daya chronos itu sendiri. Perpindahan pun tak hanya sekedar gerak dari titik satu ke titik yang lain, itu terjadi karena ada daya dorong "sang Chronos" yang entah mengapa sering memberi dampak bahwa saatnya sudah tiba. 

Hari ini aku disadarkan oleh perkataan dari seorang yang pagi tadi berbicara di hadapan kami. Ketersadaranku adalah soal waktu dan anak (manusia). Permenungan memang tentang seorang tokoh yang memang dekat dengan sosok anak-anak. Ketersadaranku pada hal biasa itu juga setidaknya memberi sedikit perspektif hidup bahwa sampai saat ini aku sudah sampai di tahap saat ini. Bukan lagi seorang anak, walau aku tetap merupakan seorang anak. Aku adalah anak manusia. Chronos memang membuatku tak lagi seperti anak-anak polos lagi. Anak-anak adalah sosok polos. Dia adalah pribadi yang masih bersih. Ia peka terhadap hal-hal yang negatif maupun positif, yang jahat maupun yang baik. Ia suka bermain dan bergembira. Ia tetap setia dan menurut pada orangtuanya. Walau ada juga anak yang berontak pada orang tuanya, namun itu hanya kisah sekian dari banyak kisah lain. 

Makin bertambahnya usia karena waktu (chronos) maka makin banyak pula perubahan dalam diri seseorang. Perubahan itu pastilah berproses. Aku tak lagi merasakan kepolosan seorang anak tatkala banyak hal kualami dan kuhadapi, banyak hal harus kukerjakan, apalagi yang menuntut sebuah tanggungjawab dan komitmen. Seolah duniaku tak lagi berwarna ceria kanak-kanak karena warnanya mungkin lebih cenderung tua walau ada ragamnya. 

Kepekaan sebagai sosok anak pun kiranya sudah berkurang. Kepekaan anak pada hal-hal yang baru dan penuh energi seolah tertelan sekali lagi oleh chronos yang tak kenal lelah menggerogoti hidupku. Sensitivitas pada hal baik dan buruk tertelan oleh logika manusia dewasa yang kadang penuh manipulasi dan benyak pertimbangan ini dan itu, yang sering kali bercampur dengan hal yang sangat kuat yaitu kepentingan diri. Kejahatan bisa menjadi baik atau kebaikan bisa dilumuri kejahatan. Itulah dunia orang dewasa, penuh intrik dan taktik. 

Bermain pun seolah dirasa tabu ketika seorang dewasa itu hidup. Hidup tak lagi sebuah permainan, namun sebuah tanggung jawab yang terus menerus dialami sebagai beban yang tak terelakkan. Seolah anak manusia mengusung segala persoalan, kerjaan, tanggungjawab, komitmen, dan sebagainya. Seabrek kepentingan pun masuk dan merasuk di situ. Keceriaan seorang anak bermain, berlari, ingin ini dan itu, mata begitu terbelalak ketika melihat hal baru atau yang belum pernah dilihatnya. Ia begitu antusias dengan segala hal yang sifatnya bermain. 

Bagaimanapun juga si anak tetaplah anak. Ia adalah sosok yang masih tergantung pada sosok orangtua, sosok orang yang lebih dewasa. Ia adalah pribadi yang masih harus diarahkan, dibimbing, diayomi, dilindungi. Ketaatan pada sosok orangtua inilah yang juga tak kalah pentingnya dalam hidup dan bertumbuh-kembangnya si anak. Ketika orangtua memperlakukan anak dengan baik dan bijaksana, kenal dunia anak, maka si anak akan dihantar pada pertumbuhan yang relatif sehat. Namun, ketika si pembimbing ini memperlakukan ia secara kurang sehat, penuh kekerasan, penuh larangan, dibebani dengan kepentingan-kepentingan orangtuanya, maka kiranya pertumbuhannya pun akan mengalami keterhambatan. 

Itulah sebabnya, aku banyak melihat anak-anak yang berontak. Mereka adalah sosok yang karena perlakuan dan situasinya membuatnya sedemikian kurang sehat. Pemberontakan menandakan adanya kebencian dalam dirinya yang entah disadari atau tidak membuatnya jadi pemberontak. Entah itu sebenarnya ada dalam dirinya, entah itu disebabkan oleh sesuatu atau seseorang di luar dirinya. Ada seorang anak yang sampai SMP kelas 2 tidak ada masalah hidupnya. Namun ketika kelas 3 SMP, ternyata pergaulan, relasi dengan orangtuanya, situasi sosial membuatnya berubah. Ada sisi-sisi pemberontakan, rebelious. Yang paling kelihatan adalah ketika ada konflik dengan orangtua, terlebih ayahnya, ia sempat beradu mulut dan akhirnya terjadi perkelahian fisik yang membuatnya seperti trauma terhadap perlakuan ayahnya. Hidupnya menjadi kacau. Orientasi hidupnya tidak jelas. Sekolahnya pun tersendat. Pertemanan pun dijadikan pelampiasan untuk jauh dari rumah dan menyingkir dari ketertekanan diri. Terjadi pula pandemi selama dua tahun lebih yang harus memakan dirinya dalam arti tidak bisa berinteraksi dengan sesamanya dengan lumrah. Sekolah harus dengan cara jarak jauh. Itu semua membuatnya harus menjadi pribadi yang tak bisa tahan merampungkan segala yang dihadapinya. 

Si anak dan sang waktu adalah dua hal yang saling terkait. Si anak bertumbuh karena melawati sang waktu, sang waktu memberinya segala kemungkinan yang harus dilewatinya. Hasilnya bisa beragam. Entah itu menjadi pribadi yang bertumbuh sehat, entah itu menjadi pribadi yang bertumbuh tersendat, entah itu bertumbuh dengan cara lain. Aku sang anak manusia hanya bisa mengelola yang aku bisa. Selebihnya sang waktu yang akan membuktikan dengan perjalanannya. 

Aku membuat ini karena banyak anak mengalami situasi yang tak mudah. Ada pemberontakan, ada trauma, ada salah asuhan, ada pembiaran, ada kekerasan. Dan mungkin juga masih banyak hal lagi. Aku mengingat mereka-mereka yang menjadi korban itu semua. Aku merasa perlu untuk mengingat, mengenangkan dan mendoakan mereka semua. 

#sandonboscoprayforus#

No comments:

Post a Comment