Thursday, September 17, 2026

Generasi Korban

Sudah berapa nyawa yang ikut menanggung dan terdampak proyek-proyek negara ini dan mereka dapat dikategorikan sebagai korban. Aku tidak menyorot mereka yang nyawanya sudah melayang di negeri ini oleh karena ulah pengurus negara dengan aparat bersenjatanya. Yang kusorot saat ini adalah mereka yang jadi korban pengurus negara ini yang cara mengurusnya tidak mau tahu terhadap nyawa. Mereka yang mungkin satu dekade ini menghadapi kenyataan pait itu. Aku hanya bisa menyebut mereka itu: yang lahannya diserobot negara untuk lahan usaha ekstraktif (sawit, food estate, tambang, dll), mereka yang terdampak oleh MBG dan keracunan, mereka yang jadi korban pelatihan manager Kopdes, mereka yang disiram air keras, mereka yang didiskriminasi karena berpartisipasi dalam demo menentang kebijakan pengurus negara (penguasa), dan mungkin banyak lagi yang lain.

Yang menjadi sorotanku adalah kita akan menemui dan menghasilkan generasi yang dari waktu ke waktu menjadi korban dan korban itu disebabkan oleh kurang becusnya negara dalam mengurus kehidupan bersama. Apakah negeri ini hanya dibangun untuk menciptakan korban-korban tak perlu dari sebuah kekuasaan? Apakah negeri ini hanya mau berjalan seperti ini saja? Aku merasa aneh ketika pengurus negara hanya bisa mengelola seadanya sebuah proyek besar yang anggarannya fantastis dan itu menciptakan keracunan massal yang pada akhirnya mereka yang mengurus itu tak memberi tindakan setimpal dari apa yang dilakukan pada orang lain yang tak berdaya. Artinya, secara kualitas hidup sebagai manusia, tindakan itu sudah merupakan sebuah kriminalitas jika tidak ada tindak lanjut: permintaan maaf, memberhentikan proyek berbahaya dan memberi penanganan sampai tuntas sebagai kompensasi dan rekonsiliasi terhadap korban yang adalah warga negara itu sendiri. 

Ada kesalahan pada bangsa ini dalam mengurus hidup bersama karena pelanggaran terhadap kehidupan sudah sejak lama tidak pernah diperhatikan dengan baik. Bangsa ini hanya seperti anak-anak yang senang gaduh dan mencari enaknya. Ketika ada gemerlap pesta, orang suka entah pada orangnya atau gemerlapnya. Lalu ketika diminta memberesi piring, meja, dan alat pesta lain, selalu tidak terjadi tindakan. Kita tercipta seolah hanya mau enaknya sendiri dan tidak mampu melihat bahwa ada pesta ada cuci piring dan bersih-bersih. Kita terlalu lama hidup dalam kenyamanan terjajah. Kita tidak merdeka melihat kehidupan itu sendiri yang di dalamnya adalah kerja keras, kritis terhadap kekuasaan, tidak mudah diiming-imingi kemegahan. 

Yang terjadi dalam kehidupan akhirnya kita mengalami (1) merasakan bahwa pengurus negara itu tidak becus dan (2) kita sebagai rakyat tidak bisa apa-apa karena terlalu lama hidup dalam nina bobok hegemoni kekuasaan yang memang tidak mau digoyang oleh masukan, kritik, dan feed back. Oleh karena itu, sebagai manusia yang masih terwadahi oleh entitas negara dan setidaknya aku mengamini itu walau prosentasenya kecil, eku pun berhak berpendapat. Maka, pendapatku demikian: (1) pengurus negara harus becus dalam mengurus itu, setidaknya mempunyai kapabilitas yang bisa dilihat dan diakui (kredibel). Caranya, kita sebagai rakyat berhak memilih dan wajib memilih dengan cemat dan cerdas mereka yang layak kita pilih sebagai pengurus negara. Jika dalam perjalanan waktu ada penyelewengan, maka rakyat secara terbuka berhak dan wajib memecat pengurus itu. (2) Sebagai rakyat, kita harus melek politik agar tidak dikibuli oleh para pengurus negara yang culas dan suka mengambil keuntungan dari kekuasaan yang diembannya. Rakyat itu bukan objek. Rakyat itu adalah subjek yang berjalan bersama dengan pengurus negara dan berhak mendapatkan pelayanan yang cukup memuaskan dengan kriteria terukur secara kuantitatif dan kualitatif, kredibel, akuntabel, transpara dan bisa dituntut. Rakyat juga harus mau mengerjakan kewajiban sebagai warga negara asalkan tidak dimanfaatkan. Maka dari itu relasi timbal balik antara pengurus negara dan rakyat itu penting.

Kembali pada generasi yang menjadi korban MBG dan bencara alam akibat ulah pengurus negara dan pemodal, aku hanya mengusulkan supaya mereka pada waktunya harus mendapatkan pemulihan yang pantas. Pemulihan yang pantas itu pun dari pengurus negara yang itikad baiknya ada dan bukan sekali lagi menjadi ajang pemanfaatan secara politis. Aku sangat muak dengan ulah bangsa ini yang mudah sekali mempolitisir segala sesuatu demi kepentingan segelintir orang. Padahal politik itu demi kepentingan kemaslahatan banyak orang atau bonum commune. Aku tidak tahu bagaimana generasi yang saat ini jadi korban peracunan program MBG itu hidup 10-20 tahun lagi. Bagaimana mereka melihat kinerja pengurus negara ini kalau mereka tidak dididik untuk menjadi pribadi yang utuh kembali. Kuatirnya, mereka tetap akan diposisikan sebagai korban yang diperlakukan secara halus namun sebenarnya mau ditutupi kesalahan pengurus negara dan memberi kooptasi pada korban agar tidak bersuara kritis. Itu ciri kekuasaan yang otoriter. 

Oleh karena itu, kesadaran menjadi pribadi manusia yang utuh, menghargai kehidupan itu sendiri dan tidak hidup menurut kepentingan pribadi/kelompok saya kira menjadi penting untuk bangsa ini. Kita terlalu muak dengan praktik-praktik kemunafikan yang menutupi dirinya dengan kemegahan namun isinya busuk belaka. Motivasi yang baik harus dilakukan dengan cara yang baik dan jujur/transparan. Kita terlalu sering berhadapan dengan ketidakjujuran sehingga ketika pengadilan diadakan tidak mudah orang melihat motivasi dari kejahatan itu. Generasi korban bukanlah generasi yang sehat untuk hidup dalam negeri ini jika pengurus negara akhirnya abai terhadap kehidupan itu sendiri. Generasi korban adalah generasi yang menggendong trauma atas keracunan, ancaman, ketakutan.


#morningtime#    

No comments:

Post a Comment