Monday, January 26, 2026

Elysium

Fratres! Three weeks from now, I will be harvesting my crops. Imagine where you will be, and it will be so. Hold the line! Stay with me! If you find yourself alone, riding in green fileds with sun on your face, do not be troubled. For you are in Elysium, and you are already dead!  Brothers… what we do in life echoes in eternity. 

Itu adalah kata-kata Maximus Decimus Meridius dalam lakon film Gladiator (2000). Di bagian akhir ia mengatakan bahwa "jika kalian mendapati diri sendiri sendirian, berkuda di padang hijau dengan matahari di wajah, jangan cemas. Karena kalian berada di Elysium, dan kalian sudah mati!" Hal itu disertai dengan gelak tawa legiun tentaranya. Dan memang awal dari film itu adalah tentang peperangan legiun Romawi pinpinannya dengan suku utara yang disebut Germania. Dalam film itu, peperangan itu dimenangkan tentara Romawi dan menjadi penaklukan di Eropa bagian utara. Kalimat yang ikonik dalam film itu karena akhirnya dia yang pernah berjuang bagi negaranya, akhirnya harus mati karena perebutan kekuasaan setelahnya. Ia yang loyal pada kaisar Marcus Aurelius kemudian disingkirkan oleh penggantinya yaitu Commodus. Itulah tragedi dalam kehidupan di manapun dan kapanpun. Intrik-intrik dalam sebuah komunitas apapun pasti terjadi, entah telah, sedang dan akan. 

Dari kisah itu aku bisa belajar banyak. Pertama, bagaimana kekuasaan akhirnya adalah perebutan antara kekuatan yang mau menyejahterakan rakyat dan yang hanya demi kepentingan segelintir orang (kelompok/ kubu) tertentu. Kedua, sebaik-baiknya orang, jika sudah ada yang tidak suka, atau karena iri terhadap dirinya maka akhirnya juga akan mengalami disingkirkan. Apalagi jika sudah tersebar bahwa entah diplintir atau karena memang pernah ada tindakan yang mencoreng hidupnya, maka penghakiman itu akan seumur hidup bahkan akan sampai pada sebuah kematian itu sendiri. Ketiga, kemenangan dan penghargaan itu tidak berarti akan akan langgeng dari satu penguasa ke penguasa yang lain. Ketika terjadi pergantian rejim, maka kemenangan dan penghargaan itu bisa dinilai sebagai kegagalan dan cemoohan. Oleh karena itu, tidak baik jika kita merasa cepat puas dan merasa hidup ini demi kemenangan dan mencari penghargaan semata, karena itu semua ada karena konteks tertentu saja. Semua tak abadi. Yang abadi adalah kepentingan itu sendiri. Keempat, aku sangat terkesan dengan cara Maximus menertawakan hidup dan itu dipakai untuk menyemangati tentaranya dengan mengatakan hal di atas: "jika kalian mendapati diri sendiri sendirian, berkuda di padang hijau dengan matahari di wajah, jangan cemas. Karena kalian berada di Elysium, dan kalian sudah mati!" Kematian bukan sebuah hal menakutkan, kematian bukan sebuah hal yang gagal, kematian bukan harus dihindari.

Di hal yang keempat itu, aku selalu terkesan. Manusia selalu mencari kehidupan material, lewat kesuksesan, nama baik, prestasi, penghargaan, sanjungan, kehormatan dan sebagainya. Setelah hidup sekian waktu, aku menyadari bahwa semua itu tidak pernah terjadi, sehingga hidup ini adalah sebuah peperangan dan pergantian waktu, kesempatan, dan bukan mengejar idealisme yang mengawang. Ketika masih hidup pun kita bisa saja berada dalam kematian, karena memang tidak bisa memaknai hidup atau kita dibunuh karakter kita oleh situasi atau lebih tepatnya penilaian politis dari komunitas (masyarakat). Sudah banyak contoh adanya pembunuhan karakter atau stigmatisasi dalam sebuah komunitas. Saat Nazi berkuasa di Jerman, orang Yahudi distigma dan tidak dianggap sebagai manusia yang layak hidup maka dibantai. Pada rezim Orba, Indonesia (tepatnya diktator Soeharto dan antek-anteknya) menstigma dan membunuh karakter orang-orang yang dianggap (1) anggota PKI, (2) simpatisan atau anggota dari salah satu organisasi underbouw PKI, dan orang-orang yang dinilai "kiri" dan (3) mereka yang dianggap "Soekarnois". Ada yang dibunuh tanpa proses pengadilan, ada yang dipenjara di kamp konsentrasi, dan keturunannya bahkan ditandai dengan kebijakan tidak boleh menjadi ASN. Kesalahan yang dipolitisasi itu dilanggengkan dalam sebuah sistem politik dan sosial yang mengimbas ke budaya dan lainnya sehingga masyarakat itu mempunyai cara berpikir bahwa mereka adalah musuh negara yang layak dibunuh secara apapun caranya. 

Media sosial saat ini menjadi sarana stigmatisasi dan pembunuhan karakter dari pihak satu ke pihak lain dengan massif. Bahkan dengan pola yang sama, jika isu itu menghilang, bisa dibangkitkan lagi demi sentimen tertentu yang dihembuskan ke publik. Maka yang dulu dianggap sebagai "pelaku" (kekerasan, kejahatan, atau apapun) itu bisa menjadi "korban" ketika akhirnya kalah dan dikalahkan. Hidup ini adalah peperangan. Ada yang kalah dan ada yang menang. Kadang ada situasi seri (draw). Tidak ada yang kalah dan tidak ada yang menang. Kesadaran akan kesehatan mental memang baik, namun tanpa dibarengi dengan keberanian melatih diri untuk kuat dalam menghadapi tekanan, kita akan terombang-ambing pada aku menjadi "korban" terus atau aku dihakimi menjadi "pelaku" terus. Bagiku saat ini yang penting adalah menerima diri apa adanya, tanpa harus memendam kemarahan meledak-ledak. Jika aku pernah jadi penjahat bagi yang lain, ya ini adalah kesempatan untuk mengubah hidup walau stigma "penjahat" itu tidak akan pernah hilang. Di mata manusia, tidak ada pertobatan. Jika aku saat ini diadili oleh situasi dan khalayak, biarlah aku menerima dan mengatakan seperti Maximus, tidak usah cemas karena aku sudah berada di Elysium, aku sudah mati. Kematian yang masih diberi kesempatan berada dan bersanding dengan kehidupan, itulah yang perlu kuhayati. Saudara kematian berdampingan dengan saudara kehidupan, demikian kata Fransiskus Asisi. 

Yah, hidup selalu berdampingan dengan kematian. Itulah yang kulihat dalam film dokumenter tentang sebuah tempat di India yang bernama Varanasi, di mana kehidupan berdampingan dengan kematian. Banyak orang membawa keluarganya yang sakit parah dan tidak bisa diobati lagi untuk mati di Varanasi karena ketika mati di sana mereka berkeyakinan bahwa yang meninggal dilepaskan dari siklus reinkarnasi. Mereka akan langsung ke nirvana. Di tempat itu Sungai Gangga mengalir, dan dipakai untuk pemujaan serta melarung abu jenasah yang mati dikremasi. Namun, ini pertanyaanku: bukankah dunia ini adalah "Varanasi" juga? Tempat kehidupan berdampingan dengan kematian? Maka, dengan coretanku ini, aku hanya ingin mengingatkan diriku dan menertawakan kehidupan (entah sebagai penjahat atau orang baik) bahwa tidak perlu cemas, karena aku sudah berada di Elysium, aku sudah mati. 



#embracinglifeanddeath# 

Tuesday, December 16, 2025

Sampai Kapan Kita akan Bertahan

Bukan hanya karena bencana di Sumatera aku menulis ini. Lebih-lebih karena aku muak dengan gaya dan cara bertindak dari pengurus negara sampai saat ini. Bencana ini hanya satu dari sekian malapetaka yang masih dan terus akan terjadi di negeri ini. Negeri yang memang sudah sejak dahulunya adalah negeri yang silih berganti akan seperti ini dengan bencana alam maupun bencana kemanusiaan. Bencana alam adalah genetika negeri ini karena kita di atas lempeng api yang tidak pernah tidur untuk sewaktu-waktunya membakar apa saja yang di atasnya. Lempeng itu akan terus bergerak karena bagian dari kehidupan planet ini. Namun demikian, bencana kemanusiaan akan lebih dahsyat hadirnya karena itu sudah menganak-pinak dilahirkan dari mentalitasnya dengan trauma-trauma yang diakibatkan oleh ketidakpedulian manusianya terhadap manusia yang lain. Kebenaran biasanya akan samar, namun kebenaran biasanya akan hadir dan memberitahu kita juga lewat bencana dan suasana yang tidak mengenakkan lainnya. 

Pagi tadi ada sebuah kebanggaan namun kebanggaan itu kiranya menjadi semu ketika keadaan realnya adalah kebanggaan yang bisa saja akan berubah di suatu saat. Banyak dari kalangan tua membanggakan negeri ini yang maha luas itu bertahan dari tahun ke tahun. Aku hanya nyeletuk, "itu kebaggaan orang tua, yang mengimaginasikan Majapahit, namun kami orang muda hanya bisa bertanya, 'sampai kapan kita akan mampu bertahan seperti ini?' " Demikian celetukku. Aku menyadari bahwa jika imaginasi itu tidak pernah akan kita rawat dan kita melalaikan keadaan real kita, maka mendingan kita berpisah dan mengadakan kesepakatan sendiri-sendiri untuk mendirikan sebuah negara yang lebih kecil-kecil daripada kesulitan menyelenggarakan negara yang maha luas dan tak realistis ini. Zaman adanya diktator sebelumnya kita sudah terlalu lama hidup bukan dalam persatuan tapi persatean. Yang penting harus disate, untuk disamakan dalam satu tusuk bambu atau jeruji logam itu. Kesatuan bukanlah kesatean. Kesatuan itu mengandaikan adanya penerimaan keberagaman dan lebih realistis mengelola hidup bersama. Idealisme tidak selamanya akan merawat hidup bersama jika ada ketimpangan di sana sini. 

Yang lain adalah soal cara bertindak (selain kebanggan merawat imaginasi kesatean - jika tidak mau disebut kesatuan) untuk mengelola hidup bersama (bonum commune) kita. Apapun bentuk nation state kita, tidak ada yang "harga mati". Semua itu ada dalam dialektika. Semua ada dalam on going, semua ada dalam on the process of becoming. Seandainya dalam proses menjadi itu ada kesepakatan lain yang mengubah cara bertindak kita, maka kita pun harus dengan realistik menerima dan menjalankan. Tidak selamanya negara yang kita bangga-banggakan itu bentuknya kesatuan, bisa jadi federasi atau bahkan bisa jadi kesepatakan atau mufakat itu kita lepas dan kita berdiri sendiri-sendiri entah itu sesuai pulau atau latar belakang suku kita. Aku tidak alergi akan perpecahan yang mengubah dan membuat sebuah formasi baru. Aku tidak menampik adanya negara kecil-kecil yang mungkin di sana akan lebih mewujudkan "keadilan sosial bagi seluruh rakyat" dengan lebih baik. Aku juga akan mendukung semua cara untuk mewujudkan kemerdekaan sebagai bagian dari "kemanusiaan yang adil dan beradab" ketimbang hanya mempertahankan bungkusnya saja namun dalamnya itu berisi ketidakadilan, bencana, korupsi, dan segala bentuk perampasan kehidupan.  

Di saat bencana ini terjadi, di sanalah kita diuji. Ketika suasana real adalah hidup yang tidak baik-baik saja, di sanalah kita sedang diuji untuk bersungguh-sungguh komitmen dengan hidup itu sendiri. Apakah aku sungguh mau mengusahakan sesuatu yang perlu dan intinya saja atau aku hanya perhatian pada luaran, tampilan, polesan? Kerja keras dan kesederhanaan adalah mentalitas yang perlu kita bangun. Tentu itu perlu didukung oleh kejujuran dalam kerja kita dan cara kita bertindak. Aku memoles diri dan aku mau menutupi kerapuhanku, biasanya aku hanya menunggu bom waktu saja kapan aku akan bertahan dengan hal-hal yang tidak perlu ini. Mentalitas kita sudah terlalu bebal dengan hal-hal yang perlu. Kita terlalu lama hidup dengan polesan-polesan asesoris kehidupan yang tak perlu. Kita terlalu bangga dengan kebesaran luasnya wilayah. Kita bangga dengan menjadi "bangsa yang besar." Kita terlalu lama membiarkan elite politik yang meninabobokkan kita dengan tipu daya mereka dan kita tidak berani melawan. Struktur hidup bersama dalam mengurus bonum commune sudah kita biarkan korup sejak lama. Orang-orang yang mengurus negara ini sudah terlalu lama bukan melayani tetapi pejabat alias elite. Mereka ada karena tujuan kita hidup bersama, bersepakat, mengadakan kontrak sosial ini dan mereka kita serahi tugas mengurus semua itu. Namun jika kemampuan mereka tidak ada, ya seharusnya kita bisa menolak mereka. 

Pemikiranku adalah tentang hidup bersama, pengelolaannya, dan pertanyaan cermin bagi kita: "sampai kapan kita akan bertahan dengan hal-hal yang tampak lumrah namun sudah tidak sesuai ini?" Sepertinya, kita perlu mengevaluasi diri. Perlu ada sebuah tindakan keras dan tegas dari kita manusia yang adalah masyarakat ini. Tindakan itu adalah sebuah tuntutan apakah masih mau melayani masyarakat atau kita paksa mundur dari tugas itu (aku tidak mau menyebut itu sebagai jabatan, karena akan melahirkan kata pejabat). Mereka kita tugasi maka mereka adalah petugas kita. Kalau melihat fenomena gerakan masyarakat sipil yang dikoordinasi oleh Ferry Irwandi, aku sudah tidak kaget lagi. Hidup di negeri yang maha luas ini membutuhkan petugas yang murah hati, tak cari nama, tak memanfaatkan bantuan untuk numpang status sosial saja, penuh liku birokrasi yang tak mencerminkan pelayan dan pengurus bonum commune. Hidup di negeri ini bagiku hanya seperti kost di republik yang lupa akan ke-republik-annya. Semenjak kita lahir, kita sudah tidak dilayani oleh lembaga yang namanya negara. Kita hanya hidup di sebuah ruang republik namun kita harus bayar. Ada berbagai harga yang harus dibayar sebagai masyarakat. 

Kita perlu sadar akan keberadaanku, siapa yang kupercaya dan tidak bisa dipercaya, bagaimana sebab dan akibat dari cara bertindak kita sebagai warga republik yang diurus oleh para pengurus yang tidak becus ini menjadi bagian dari hidup kita. Selebihnya, kita bernegara ini hanya mengurus sendiri. 


#dipagihari# 

Wednesday, November 26, 2025

Ke Kedalaman

Kedalaman bukan hanya dalam arti ukuran fisik  yang diukur dengan meteran atau penggaris atau alat ukur kedalaman atau ketinggian secara geometrik. Aku hanya ingin membicarakan bahwa kedalaman ini adalah unsur peziarahan jiwa dan batin dalam memasuki tahap demi tahap perjalanan hidup. Setiap tahap hidup ada benang merahnya. Setiap jejak itu adalah tapak-tapak yang disadari dan ditelusur kembali. Inilah aktivitas yang memang perlu atau tidak hanya manusia yang memiliki kemampuannya. Manusia sebagai makhluk yang terus mencari makna, mampu merefleksikan dirinya, mampu menemukan jejak hidup di masa lalu, sekarang dan berspekulasi akan masa depan, walau tidak sepenuhnya yang dinamakan masa depan ada di tangannya. Aku menyadari bahwa tidak semua bisa dikontrol oleh kemampuannya.

Dalam keadaan di mana ia tidak mampu menguasai hal-hal tadi, maka yang kemudian perlu dibuat adalah melihat hidup ini jauh lebih realistik ketimbang terobsesi untuk menguasai. Ketika seseorang menemukan dirinya adalah diri real di lini masa saat ini, maka aku menemukan diriku saat ini. Namun demikian, aku pun menemukan diriku yang terbentuk ini karena ada dimensi masa lalu yang juga "telah" membentukku. Aku sengaja memberi tanda petik pada kata 'telah' karena pertimbangan waktu saja. Masa lalu telah membentukku sedemikian rupa sehingga menjadi sekarang ini. Masa lalu telah mengukirku secara sadar atau tidak dan akhirnya aku sekarang ini yang hidup. Apakah perlu meratapi atau mensyukuri? Nah, itulah yang akhirnya menjadi penting digali sehingga menghasilkan jawaban atasnya. Masuk ke dalam inner-self kita adalah sebuah peziarahan juga. Memasukki diri dan jagat-nya adalah sebuah keberanian. Tidak semua orang berani karena akan menghadapi hal-hal yang tidak hanya menyenangkan tetapi lebih pada banyaknya kerapuhan.

Aku bisa mengutuki atau meratapi masa-laluku karena aku mempunyai obsesi akan diri saat ini dan yang akan kuukir nanti. Mengapa demikian? Kadang dalam kisah hidup manusia, ada yang merasa hidupnya penuh kemalangan, merasa kurang beruntung, koq tidak bahagia, dan ada hal-hal yang serba tidak nyaman. Itu terkait dengan apa yang dirasa secara pribadi dan ada yang terkait dengan relasinya dengan pribadi-pribadi saat ini atau ruang dan waktu saat ini. Katakanlah, aku merasa koq aku sering tidak suka dikritik oleh orang lain karena kritikan itu selalu membuatku agresif menyerang orang lain. Atau ada kesadaran lebih dalam bahwa ketika aku dikritik orang lain, aku teringat akan diriku yang meminta dipahami dan dipuji, eh koq aku mendapatkan hantaman kritik.  Setelah ditelusur, ternyata dalam sejarah hidupku aku memang mempunyai sebuah pengalaman bahwa relasiku dengan ibuku adalah relasi yang hanya menurut saja dan hanya bisa menurut saja tanpa mempunyai daya untuk berdiskusi, menyampaikan pendapatku dan aku mengalami represi selama awal usia emasku. Dari sana aku sebenarnya merindukan sebuah ruang dipahami, aku merindukan ruang di mana aku pun bisa saja gagal, jatuh, tidak sesuai idealisme namun aku adalah aku yang juga butuh dipahami.

Aku merasa tidak nyaman kalau memprotes apa yang dilakukan orang lebih tua dariku karena aku ada dalam dilema (1) kalau aku melawan, aku selalu dimarahi dan kemarahan itu membuatku tak berdaya karena aku tidak dianggap atau tidak diperhatikan atau tidak diberi ruang merdeka atau (2) aku tidak boleh membantah karena itu adalah DOSA. Itulah yang membuatku terkungkung dalam keberadaanku saat ini, karena itu terekam dalam memori hidup tubuhku. Itulah tegangan yang memenjarakan diri. 

Di sisi lain, seorang anak manusia akan bisa bersyukur atas pengalaman ketidaknyamanan masa lalu karena hal di atas ketika dirinya menyadari (dalam proses reflektif-nya) bahwa ketidaknyamanan masa lalu adalah sebuah anugerah di balik pengalaman negatif itu. Maksudnya demikian, ketika pribadi itu menyadari bahwa ada sebuah konflik terpendam di masa lalunya, ia mulai menyadari lewat perjuangannya bahwa apa yang dilakukan orang terdekatku adalah sebuah usaha yang ia bisa demi dirinya. Mungkin aku belum melewati masa menerima diri jika belum menelusuri lorong-lorong hidupnya di mana sebenarnya perlakuan ibunya adalah tindakan melindungi dan menyayangi jika belum direfleksikan. Penerimaan diri atas perlakuan kasih sayang itu bisa saja caranya adalah kurang sesuai kemauan si kecil yang sarat dengan super ego dirinya. Dan si kecil itu merekam dalam hidup tubuhnya dan akhirnya menimbulkan letupan-letupan agresi yang tak disadari. Misalnya, bisa saja seseorang tidak dekat dengan sosok ortunya karena merasa terus dipaksa sejak kecil dan akhirnya menyimpulkan diri bahwa orang tua tak mencintainya. Namun sebuah peristiwa kecil terjadi di masa remajanya, ternyata orangtuanya dengan penuh usaha mendatanginya di saat moment biasa namun berharga, dan itulah yang menyembuhkan. Memori hidup tubuhnya akhirnya mengubah simpulan itu, yaitu ternyata orangtuaku mencintaiku. Hatinya terharu dan di sanalah terjadi rekonsiliasi. Aku sudah tidak lagi menyebut orangtuaku membenciku atau tidak menyayangiku atau apapun itu. 

Kedalaman biasanya ditemukan ketika jiwa seseorang itu ada dan menyediakan diri dalam keheningan. Ruang dan waktu hening itu perlu diusahakan. Tak mudah memang dalam hiruk pikuk hidup yang hanya menuruti jadwal harian yang tergerus oleh padatnya rutinitas atau aktivitas sehari-hari. Kadang kita pun perlu menyingkir dari kepadatan rutinitas. Kedalaman itu demi menumbuhkan jiwa yang kerdil menuju pada kedewasaan hidup. Menuju pada kedalaman adalah pengembaraan jiwa yang mau memaknai hidup bukan sekedar hidup yang biasa namun ada makna dari setiap jengkal atau rentangan sekecil apapun jejak hidupku. Kedalaman mengajakku untuk berani menghadapi setiap warna dan wajah dari hidupku, baik yang ceria atau yang bopeng-bopeng tak elok. Itulah tadi kusebut sebelumya sebagai peziarahan ke dalam inner-self. Kadang aku menolak ketidakelokan itu, namun sayangnya aku pun harus menghadapinya, menerimanya, bahkan memeluk kesemuanya itu karena itu adalah aku. Aku pun perlu memaknai keterlemparanku ke dunia ini supaya aku tidak terjebak dalam keterasingan hidup. Aku adalah orang asing dalam pengembaraan di dunia ini namun aku tidak mau terasing dari diriku dan duniaku. 


#eveningtimewiththerain# 

Monday, October 27, 2025

Keberacunan dan Kegelapan

Bangsa yang hidupnya ada dalam kegelapan tidak akan melihat terang. Terang bagi bangsa ini hanya sekedar sepercik cahaya yang menyinari memori sesaat belaka. Tidak ada bangsa yang lebih menyedihkan daripada bangsa yang  hidupnya menyukai kegelapan. Itu hanya sekelumit ucapan mazmur pribadi di tengah hiruk pikuk kehidupan bangsa yang entah mau kemana pergi dan berlalunya nanti. Jargon-jargon yang selama ini menggaung seolah-olah hanya angin lalu saja. Kadang kita dibius dengan jargon-jargon memabukkan dan kita tenggak tanpa lambaran makanan lain sehingga cepat memabukkan. Ada yang mengatakan "Kita adalah bangsa yang besar. Bangsa yang besar adalah bangsa yang tidak melupakan para pahlawannya." Ada lagi yang mengatakan bahwa "NKRI harga mati". Semua itu adalah jargon-jargon dari muntahan racun memabukkan yang disebut sebagai ultra otoritarianisme belaka. Setelah aku menelisik, bangsa ini memang lahir dan dilahirkan di masa nasionalisme didengungkan dan oleh kekuatan fasisme yang menjadikan bentuk negara dan orang-orang di dalamnya mencetuskan sebuah negara bangsa. 

Aku bisa memahami bahwa di tengah-tengah lahirnya negara bangsa ini ada kekuatan yang selalu kuat entah mendominasi atau tidak, pengaruhnya tetap ada dan terasa. Ada sebuah negara di dalam negara. Kekuatan itu nyata dan di zaman rezim sekarang tengah dihidupkan kembali. Rezim yang sarat racun dan kegelapan tengah berkuasa di bumi ini. Hal itu juga tidak luput dari pengaruh negara bangsa lain yang situasinya sebelas dua belas. Artinya, jagat gedhe sedang menampilkan tokoh-tokoh yang senada dan seirama.  Entah itu di negara yang superpower atau di negara -negara kere, kiranya tokoh-tokoh yang sedang dimunculkan oleh dunia ini adalah mereka yang memang berwatak pemimpin yang populis kapitalis. 

Dari waktu ke waktu, di masa rezim ini yang belum berumur panjang, sudah banyak hal yang terjadi. Dan itu memilukan. Namun demikian, ini bukan hanya dari pengelihatanku dan mungkin karena aku sudah mempunyai sentimen kurang baik. Ada banyak pemberitaan dan kenyataan bahwa di sana-sini ada banyak kejanggalan dilihat dari kaca mata orang yang memang mengidealkan soal tata kelola dalam hidup bersama. Ada ironi di sana-sini ketika melihat ketidaksehatan dalam menyusun para pengelola negara ini. Kegemukan sebuah pengurus adalah cermin kekurangbecusan seorang pemimpin dalam mengelola sebuah komunitas negara bangsa. Hal lain adalah membuat lembaga-lembaga baru yang menghambur-hamburkan uang adalah sebuah realitas bahwa pemimpin ini adalah pemimpin yang tak pernah mengalami situasi sulitnya hidup sebagai rakyat kecil. Walau jargonnya adalah demi kesejahteraan masyarakat, demi mengentaskan kemiskinan, demi rakyat kecil, semua itu hanya omon-omon saja. Kenyataannya, si pemimpin ini adalah seorang yang tak pernah merasakan kemiskinan materi. Yang kemudian muncul lagi adalah kejadian-kejadian massal di mana banyak anak SD, SMP, SMA/K keracunan makanan. Makanan itu dari para pengurus negara. Idenya adalah memberi makan bergizi pada generasi muda yang masih belajar di tingkat dasar dan menengah. Ide dan cita-cita yang mulia. Namun yang baik itu perlu dibarengi dengan tindakan detil yang baik juga. Ternyata itu terlewatkan. Ketika banyak anak keracunan, anehnya adalah para pengurus negara ini hanya diam saja, ada yang menangis tipu-tipu, ada yang tanggapannya salah dan sebagainya. Misalnya, ketika ahli gizi dan para pemantau keracunan ini bicara di parlemen, salah satunya adalah "guru dijadikan budak proyek makan gratis ini", maka tanggapan pengurus negara yang cetek pikirnya adalah segera memberi tambahan uang bagi guru-guru yang harus mengkoordinasi makanan itu. 

Aku sekali lagi tak habis pikir. Aku sudah cenderung muak dengan rezim yang mempermainkan pengelolaan hidup bersama ini entah dengan aturan mainnya diubah-ubah seenaknya, dengan ongkos mahal dalam hidup bersama kita, dan juga kekuatan represif yang saat ini sudah mulai merebak di sana-sini dan akan, sedang dan sudah berkuasa lagi. Mereka-mereka yang memakai lars panjang dan pengoperasi sah senjata adalah pihak yang tak kusukai. Aku sebagai pribadi sudah pernah mengalami betapa menindasnya jika kaum bersenjata ini berkuasa. Mungkin saat ini belum sangat terasa namun sudah kelihatan di mana-mana. Dari urusan sampah sampai dapur, mereka ada. Dari penyelewengan arti ketahanan pangan mereka dicawe-cawekan oleh rezim yang memasukkan para kaum bersenjata ini ada di dalam dan mengurusinya. 

Yang aku rasakan sampai saat ini adalah sebuah kekuatiran dan ketakutan bahwa racun dan kegelapan itu akan dibawa kembali menyelimuti hidup negara ini. Keracunan itu hanya bagian kecil dari genosida yang mungkin sedang dirancang. Kalau hanya terjadi satu yang keracunan, itu tragedi. Tapi kalau yang keracunan itu ribuan, itu hanya statistik. Itulah cara pandang pemimpin otoriter - represif - haus darah. Wajahnya kelihatan manis dan gemoy namun di dalamnya adalah wajah bengis iblis dari neraka jahanam yang siap melalap hidup semua makhluk. 

Mungkin inilah tulisanku di masa kegelapan dan keracunan. Aku tidak tahu harus sampai kapan masa ini akan berlalu. Orang kita hanya punya memori pendek-pendek, yang akan mengangkat pembantai jutaan orang jadi pahlawan, yang membiarkan ketakutan kembali mengontrol diri kita, yang membiarkan kita alergi membaca buku-buku bermutu, dan yang menjerumuskan hidup kita pada abad gelap (obscurum saeculum).    



#pesimisvsoptimis#

Monday, September 15, 2025

Ternyata...

Awalnya ragu
Sebuah keraguan pernah muncul dalam diriku. Hal itu terkait dengan apakah anak muda zaman ini meu berpolitik, karena mereka sudah terfasilitasi dengan banyak hal. Aku sempat menyatakan hal ini di beberapa kesempatan, entah itu dalam situasi formal atau dalam percakapan personal. Aku merasa bahwa kemerosotan dan kebusukan yang terjadi di dunia saat ini harus berubah. Perubahan itu harus radikal. Bahkan aku selalu berpikir, harus ada sebuah pembalikan besar-besaran entah lewat perang atau bencana alam dahsyat, supaya ada pembersihan besar-besaran. Ini adalah harapan yang mengandaikan sebuah kesadaran dari dalam juga. Kadang kesombonganku mengatakan bahwa pada saat dulu, saat berjuang di tengah melawan musuh bersama, semua itu adalah momentum mengubah nasib sebuah bangsa. Saat ini musuhnya banyak, bahkan kadang aku sendiri sulit menemukan musuhnya siapa untuk dilawan. Seolah-olah, dunia sudah dininabobokkan oleh kemewahan dan fasilitas itu sendiri. Akibatnya, generasi zaman ini sudah dengan enaknya tidak perlu berjuang keras bahkan melawan kekuasaan. Itu bayangku dulu, sebelum 25-31 Agustus 2025 dan ternyata itu masih berlanjut ke bulan September ini. Bukan hanya lokal di Indonesia namun merebak ke Nepal, Philipina, dan Perancis.

Keraguan itu mulai sirna. Ada musuh bersama yang bisa dilawan dan itu akan tetap ada di sepanjang segala abad jika kita tidak sadar. Musuh itu selalu akan melawan kesadaran individual maupun komunal bahwa keadilan dan kesejahteraan harus dihadirkan. Musuh itu bisa berwujud apapun. Intinya, dia menghadirkan ketidaksadaran, ketidakpedulian, memberangus pemikiran kritis, meninabobokkan manusia dengan fasilitas, namun di sana dia terus membajak marwah apa yang seharusnya terjadi dalam kehidupan bersama. Biasanya musuh itu ada dalam pengurus negara. 

Perlu ada trigger sebuah penderitaan dan penindasan
Keadaan yang tertindas membuat orang kalah atau berani melawan. Mungkin awalnya adalah kalah dan tak berdaya. Namun jika ketertindasan dan perasaan yang sama dialami banyak orang dan kesadaran itu membawa pada sebuah kehendak kuat untuk melawan, maka akan ada jalan untuk sebuah gerakan perlawanan besar. Protes merebak dari soal perasan keadilan yang dilukai. Ketidakadilan terjadi. Pemicunya adalah tindakan pamer yang ditunjukkan dengan masif. Orang tidak sadar bahwa hidup kita saat ini tidak bisa lagi ditutup-tutupi atau ibaratnya kita itu ada dalam rumah kaca yang bisa terlihat dari mana dan kapanpun oleh siapapun. 

Ketika perasaan ketidakadilan yang terjadi di masyarakat manusia, maka energi ketertindasan dan menuntut keadilan dikembalikan itu bisa berwujud gelombang protes perlawanan. Protes itu bisa mengakibatkan kerusuhan bila kekuasaan masih represif dan tidak responsif. Di Indonesia hal itu disebabkan oleh rasa keadilan yang dilukai lewat kebijakan penguasa menaikkan pajak dengan alasan efisiensi namun pengurus negaranya berfoya-foya, membuat kebijakan yang tak masuk akal, aparat bersenjata masih represif dan sangat suka dengan kekerasan. Di Nepal, dengan kondisi internal yang mirip dengan Indonesia, ditambah lagi pemblokiran berbagai platform medsos, akhirnya menyingkap kerapuhan negara itu dan kaum muda yang mengamuk. Di Perancis, banyak orang protes dan rusuh karena kebijakan mengenai penambahan waktu kerja dan penghilangan beberapa hal yang berpengaruh pada dikuranginya hak-hak warga sipil. Banyak warna di tiap negara namun satu rasa yang sama yaitu keadilan harus dikembalikan. Masyarakat versus pengurus negara tak bisa dihindari lagi. Padahal seharusnya pengurus negara adalah representasi warga itu sendiri, namun sudah lupa daratan dan menjadi elite yang tak tersentuh dan tak pernah terkoneksi dengan masyarakat biasa.

Apapun itu suasananya, satu hal yang bagiku berguna untuk sebuah pembelajaran global yaitu bahwa kehidupan ini haruslah demi sebuah kesejahteraan bersama (bonum commune). Itu masih relevan. Jika kesejahteraan bersama sudah dikhianati maka keadilan sosial (social justice) juga sudah dibajak oleh segelintir orang (elite). Di sanalah muncul penindasan, ketidakadilan, abuse of power, kesewenang-wenangan, dan sebagainya. Penindasan memunculkan pemberontakan. 

Tidak hanya sebuah peristiwa lokal, tapi global
Peristiwa protes dan kerusuhan di beberapa lokasi di dunia ini tidak hanya monopoli di Indonesia. Ternyata itu berdampak ke berbagai belahan dunia. Artinya ada kecepatan perambatan model protes, namun di sisi lain ada situasi yang sama di beberapa negara. Fenomena global ini ternyata mencerminkan status quo beberapa gubernasi penguasa di beberapa negara. Di Perancis yang adalah pelopor sistem demokrasi itu sendiri juga mengalami hal yang sama. Ternyata pemerintahannya tidak sebaik yang menjadi bayangan sebelumnya. Bayanganku, pemerintahan negara-negara Eropa yang sudah mapan adalah baik juga. Namun ternyata tidak. 

Kuakui bahwa kecepatan dampak ini adalah karena faktor kecepatan penyebaran di dunia internet dan media sosial. FB, IG, Tiktok, X, dan lain-lain adalah sarana penyebaran efektif global. Sarana ini sudah menjadi senjata generasi saat ini untuk berekspresi, menyuarakan pendapat, bekerja, dan apapun bisa diluapkan di situ. Dalam hal ini, aku bangga dengan kecepatan yang tersalur oleh generasi muda saat ini. Globalitas efek ini akhirnya yang menggaung adanya perasaan yang sama. Dukungan luas cepat sekali merebak. Dan itu sangat efektif. Warga global sudah bukan hal asing lagi. 

Komunikasi generasi muda dan tua yang rapuh dan terhambat
Aku melihat dari hal komunikasi antar generasi juga dalam fenomena protes dan kerusuhan itu. Ada sebuah kemacetan komunikasi. Ada kesenjangan antara generasi tua (penguasa) dan generasi muda (masyarakat). Ada kesenjangan kecepatan antara yang muda dan tua. Penguasa biasanya merespon lambat segala macam tuntutan publik. Hal itu disebabkan oleh kenyamanan, sehingga kehendal politiknya jadi melemah dan tentu gerak birokrasi yang lemot akan menjadi wujud berikutnya. 

Saat ini kecepatan itu adalah kebutuhan di sisi tertentu. Kecepatan merespon akan menentukan sebuah kepuasan publik atau tidak. Kepuasan publik akan menentukan peminatan dari sebuah sistem atau sosok tententu. Minat terhadap sosok/sistem menjadikan penentu keberhasilan sebuah pemerintahan atau politiknya. 

Di sisi lain kerapuhan dan keterhambatan komunikasi membuka mata kita bahwa perlu ada keterbukaan dari kedua belah pihak, yang tua dan muda, yang berkuasa dan warganya, karena bagaimanapun gubernasi adalah tentang seni berkomunikasi. Kekuasaan adalah komunikasi itu sendiri. Apalagi saat ini, media sosial mengatakan pada kita bahwa siapa yang melek media adalah dia yang menguasai, walau belum tentu berkuasa secara politik praktis. 

Sebuah peluang gubernasi global dengan internet-sosmed 
Jika warga dunia global ini cepat sekali menyebarkan pengaruh, maka potensi yang baik adalah bahwa batas-batas negara akan segera terhapus pelan atau lambat. Gubernasi bisa terjadi lewat jejaring internet dan media sosial. Di Nepal pun pemilu cepat bisa dengan platform tertentu dan tanpa harus hadir secara fisik dengan pencoblosan kertas (konvensional).
 
Tugas-tugas yang lebih bisa dipantau oleh warga masyarakat akan lebih mudah transparan dan akuntabel dengan bantuan sarana digital lain. Oleh karena itu, Ahok pernah berkata, "Jika para pejabat mau mempertanggungjawabkan kerjanya, semua harus transparan, ditunjukkan ke publik kinerjanya, bahkan gajinya." Aku sangat setuju dengan model seperti itu, karena publik atau warga atau masyarakat bisa melihat dan mengecek seberapa benar dan tepat sasarannya sebuah proyek itu dibuat, didanai, dikelola dan dikawal. Itulah bonum commune. Publik diajak untuk melihat dan mengawal. Memberi masukan atau koreksi itu hal yang bukan sesuatu yang tabu dan membuat alergi yang dikritik. Itulah kontrol kekuasaan/ wewenang.  

Feodalisme harus dilawan
Yang tidak bisa dilupakan lagi adalah bahwa musuh bersama yang harus dikalahkan adalah di zaman ini adalah penjajahan dari mentalitas feodalistik. Bentuk negara apapun dan sistem apapun, jika tidak hati-hati, kekuasaan akan berubah menjadi feodal. Artinya, sekelompok elite akan menampakkan diri sebagai yang "terpilih" dan menuntut adanya pengecualian, diistimewakan, berjarak dengan publik. Ini yang kemudian menjadikan mereka layaknya para dewa yang harus diberi sesaji. Mentalitas feodalistik ini bisa menjangkit ke mana saja dan kapan saja zaman ini berjalan. Kalangan gen Z pun bisa terkena ini kalau ia selalu menikmati previlese di rumahnya. Akibatnya, orang menjadi tak peka, kurang punya empati karena semua harus meladeni dia sebagai "elite". Itulah musuh abadi bagi semua orang. Perancis yang pernah berkar dengan Revolusi-nya yang mencetuskan "Liberte, Fraternite, Egalite" pun kena masalah ini.

Perkara mentalitas harus dibangun sejak dini. Pendidikan egaliter bukan berarti melalaikan saling hormat satu dengan yang lain. Menghargai mereka yang tua bukan lantas menegaskan terus budaya feodal. Jika pendidikan itu benar, maka relasi setara itu bisa dibangun. Relasi tak setara karena ada sebuah pola pembangunan jiwa yang mau melanggengkan status quo mereka yang tidak mau bergerak dan berubah. Menghormati mereka yang lebih senior bukan lantas menciptakan budaya senioritas. Menghormati orang yang lebih tua bukan berarti harus selalu menomorsatukan yang tua dan tidak bisa berpandangan bahwa kaum muda tidak bisa diandalkan. Justru dalam sebuah komunitas yang hidup, relasi dan pola relasinya harus dinamis. Yang tua menghargai yang muda, yang muda juga belajar dan mau menghargai yang tua. Sekali lagi, ini soal mentalitas yang bisa menjangkit di berbagai generasi. Hanya satu cara: feodalisme harus dilawan.

Meredefinisi hidup bersama
Ada jargon bahwa bentuk sebuah bentuk negara adalah harga mati. Dengan hal yang terjadi akhir-akhir ini hal itu tidak lagi relevan. Bentuk sebuah negara adalah sebuah sarana bagi hadirnya social justice dan bonum commune. Jika bentuk sekarang ini tidak menghadirkan itu, maka harus diredefinisi lagi bentuknya. Mungkin jika bentuknya tidak masalah, perlu melihat pengurus negara dan sistemnya. Jika tidak, perlu lebih jauh lagi, mekanisme dan siapa yang harus mengecek dan menyeimbangkan kekuasaan. Kontrol kekuasaan dan memastikan mekanisme itu berjalan adalah tugas yang tidak mudah. Tugas kita semua yang tidak boleh lelah mengadakan check and balance segala hal yang terjadi. 

Hidup bersama tidak lagi terbatasi oleh border wilayah negara, baik itu republik atau kerajaan atau apapun. Saat ini sebagai warga global planet ini, orang bisa saja menjalankan gubernasi dengan lintas batas teritorial. Dengan sarana media komunikasi dan informasi, masyarakat manusia jauh lebih bisa berkomunikasi satu sama lain dari jarak jauh dan waktu yang berlainan dengan lebih mudah. Ruang dan waktu bisa dicabut dengan kemajuan teknologi komunikasi dan informasi. 

Oleh karena itu, res politica masih relevan. Bahwa ada urusan bersama itu adalah hal yang wajar. Ketidakwajaran terjadi karena ada segelintir orang yang melencengkan dalam mengurus res publica jadi res privata. Hasilnya adalah ketidakadilan dan tidak terjadi kesejahteraan bersama. Politik bukan soal meraih kekuasaan atau merebutnya. Politik adalah seni mengurus urusan bersama sehingga tidak ada yang dirugikan. Atau setidaknya antar individu saling belajar berkeadilan, berbagi, berkontribusi, mengawal dan tidak sarat kepentingan bagi kehidupan bersama demi kesejahteraan bersama dan keadilan sosial itu. Mengurus urusan publik dibutuhkan mentalitas "mau repot"dan tidak lelah untuk selalu berbenah. 


#inmyroom#

Friday, September 5, 2025

Res Publica

Hal publik itu sekarang terkenal dengan nama Negara. Res publica dahulu adalah sebuah istilah yang dipakai pada zaman orang-orang di Kekaisaran Yunani dan Romawi Kuno untuk segala hal yang terkait dengan urusan bersama (public). Dulunya adalah istilah yang dipakai para pemikir untuk menamai segala macam hal urusan umum / bersama. Di negeri ini yang sudah secara resmi menamakan diri artinya membangun dirinya, melahirkan dirinya di kancah perhelatan dunia, dan akhirnya diakui oleh negeri-negeri lain yang sudah menamakan diri mirip dengannya alias sejenis res publica. Republik sudah menjadi istilah yang begitu populer di telinga dari zaman ke zaman. Artinya, negeri ini adalah urusan bersama, bukan hanya dimiliki, diurus hanya oleh segelintir orang yang lantas membangun diri sebagai elite. Walau realitas di lapangan itu yang terjadi. Akhir-akhir ini rakyat akhirnya sadar betul bahwa selama ini kita kurang memaknai res publika di negeri ini. Kita terlalu mengandaikan sehingga rakyat hidup dengan pola apa-apa diurus sendiri serba swalayan, swadaya, swa apapun. Bahkan aku sampai mengatakan bahwa semenjak lahir, aku sudah harus ngurus apa-apa sendiri, di republik ini tidak ada res publica yang dilayani oleh mereka yang kita percayai sebagai pekerja untuk res publica itu. Aku hanya numpang nge-kost hidup di negeri ini.

Aku melanjutkan celotehanku. Masih agak melanjutkan celotehanku di bulan lalu yang baru saja berpindah, aku tengah mengamati situasi yang akhir-akhir ini publik tengah galau dan juga bersuara akhirnya. Inilah momentum yang kutunggu-tunggu karena di celotehanku sebelumnya aku hanya bertanya: "siapa yang akan mengawal dan mengontrol pengawal atau pengawas atau aparat" itu sendiri. Siapa yang menjaga penjaga? Mengapa akhirnya jawabannya adalah yang bertanya itu sendiri atau akhirnya jawaban itu adalah yang bersuara? Memang dalam sebuah republik, medan terbesar yang dijadikan "hal" adalah publik itu sendiri. Publik adalah yang berkepentingan untuk menciptakan wadah besar yang diselenggarakan untuk membuat ruang bagi seluruh aktivitasnya dan kemudian dibuatlah sebuah kontrak bersama. Publiklah yang mau tak mau harus mengawasi, mengontrol, menjaga, mengawal apa yang menjadi kepentingannya. Selama ini memang kita terlalu mengandaikan "wakil-wakil" publik itu. Mereka kita beri suara (karena merengek-rengek), mereka kita beri fasilitas (gedung, ruang kerja mewah, bayaran banyak, dan berbagai macam hal lain) guna mendukung kinerja mereka, yaitu legislatif alias pembuat aturan main. Pihak-pihak yang kita ciptakan bagi kesepakatan kontrak bersama ada yang lain lagi, yaitu yang menjalankan (eksekutif) dan yang menjaga aturan main (yudikatif). 

Eh, ternyata ketiganya tidak berjalan seperti adanya. Marwah ketiga lembaga yang sebenarnya kita percaya menjalankan tugasnya ternyata mengkhianati publik itu sendiri. Mereka-mereka telah melupakan kontrak bersama. Yang sedang memanas kita soroti adalah mereka yang membuat aturan main. Eh, alih-alih mereka sangat cepat dan tepat membuatnya, ternyata malah menyalahgunakan kedudukan hanya untuk mencari dan menimbun cuan saja. Alih-alih mereka mewakili suara publik, eh, ternyata suara itu hanya sebuah komoditas yang sudah terbeli ketika mereka promosi dan setelah dapat, mereka tak lagi menggubris suara publik itu. Mereka malah berjoget ria entah apa yang penyebabnya. Apakah karena dapat tambahan tunjangan yang makin ugal-ugalan? Atau apapunlah yang akhirnya tersorot oleh publik itu sendiri. Yah, jangankan berjoget, tidur atau nonton film bokep saja sekarang mudah tertangkap oleh publik di zaman yang serba menuntut transparansi ini. Suara itu sekarang berbunyi nyaring oleh para perwakilan rakyat yang peduli akan res publica ini. Ada yang mewakili kaum muda, ada yang mewakili kaum terpelajar alias akademisi, ada yang mewakili kaum agamawan dan budayawan, dan sebagainya. 

Walau sudah terlanjur ada tragedi nyawa melayang, sekali lagi, publik tetap tidak ingin hal itu terulang maka bersuaralah mereka. Sebenarnya jika wakil-wakil kita di tiga lembaga yang ada di sebuah nation state itu bekerja dengan common sense-nya alias lumrah dan wajar, maka tidak ada yang namanya tumbal. Tidak ada yang namanya korban nyawa. Tidak ada yang namanya kerusuhan. Bahkan protes keras pun itu sebenarnya tidak akan terjadi. Setidaknya evaluasi itu selalu ada. Karena tidak punya common sense, maka wakil-wakil kita itu tidak peka dan tidak tahu akan situasi dan kondisi yang diwakili. Itu pertama-tama yang aku pikirkan. Kedua, di lembaga kedua, yaitu pelaksana (eksekutif), kita sudah dikibulin dan dijadikan bulan-bulanan oleh pihak satu ini di era Orba. Eksekutif yang adalah dia yang bersenjata, memimpin negeri ini dengan tangan besi. Pelaksana akhirnya menguasai dua lembaga yang lain, yudikatif dan legislatif. Apa yang dikatakan eksekutif (dalam hal ini presiden res publica) bahwa hal itu hitam, maka legislatif dan yudikatif hanya mengangguk saja. Semua di bawah komando sang pemimpin bersenjata itu. Itu bedanya dengan masa di zaman pasca Orba. Namun kelihatannya, ada corak yang mau dibangun mirip di masa pemimpin yang bersenjata itu di saat ini. Yudikatif memang belum sangat kelihatan dibenci dan dicaci. Walau sebenarnya juga harus kita waspadai. Kerjanya saat ini masih nangkap-nangkap mereka-mereka yang melakukan korupsi, namun apakah ini bukan hanya dipakai oleh pihak eksekutif? Aku koq merasa ada yang janggal. Ketiga, ekseskutif adalah dia yang (mantan) bersenjata. Namun demikian, tentu ada pengaruhnya di dalam gaya memimpin, gesturnya, pola pikir dan tindakannya. Walau tidak segarang di zaman Orba karena saat ini dunia tidak lagi sebodoh zaman itu. 

Aku sangat mengapresiasi rekan-rekan yang sudah membuat tuntutan atau petisi atau pernyataan 17 + 8. Angka yang menarik, simbolik seperti angka keramat bagi republik ini. Aku hanya berharap dan ini pasti akan menjadi sambungan celotehanku selanjutnya, bahwa sekaranglah saatnya rakyat bersuara, mengawasi, membuat kerja wakil-wakil kita terukur, terkontrol, transparan dan bisa kita rasakan hasilnya. Ada perjuangan. Ada pergulatan. Tentu akan ada pro dan kontra. Namun kita harus dan mau tak mau mengawasi detil dan bahkan membuat konkrit, sehingga jalan betul apa yang ada dalam 17+8 itu. Aku sangat setuju bahwa 17+8 itu adalah living petition. Itu adalah sebuah hal yang tak bisa hanya harga mati. Bahkan republik ini pun bukan juga harga mati. Republik ini hanya sarana. Tujuannya dan harga matinya adalah kesejahteraan bersama (bonum commune). Jika memang republik ini harus diredefinisi, ya mari kita mulai dari nol. Jika republik ini sebagai sarana kesepakatan bersama yang memang belum final, maka mari kita perjuangkan lagi. 

So, 17+8 itu kiranya perlu kita cermati dan jangan sampai lolos dikerjakan oleh para wakil kita yang sudah kita percayai, kita minta kerja dengan sungguh dan kita perlu menjaganya. Kehormatan wakil kita adalah kehormatan kita. Ketidakhormatan mentalitas mereka adalah beban bagi kita dan akhirnya kita juga merosot kehormatannya. Kita jadi beringas dan kasar karena merespon ketidakhormatan wakil-wakil kita. Kita jadi biadab karena wakil-wakil kita jadi contoh kebiadaban. Pejabat menjadi penjahat. Itulah ketidakhormatan dan kemerosotan martabat kita. 

Selain itu, yang perlu kutambahkan di sini adalah sisi pengawal atau mereka yang ditugasi membawa senjata (bedil atau apapun), kuharapkan mereka juga makin humanis namun tegas dan taktis dalam menjaga marwah tiga lembaga wakil rakyat (legislatif, eksekutif, dan yudikatif). Para pembawa senjata itu bukanlah centeng yang sudah diperankannya selama tiga dekade lebih semasa Orba. Saat ini mereka harus sadar diri bahwa dunia berubah. Yang berbedil ya harus kembali ke barak dan jangan merangsek ke sektor-sektor pekerjaan sipil yang tidak selayaknya mereka lakukan. Sipil itu memang perlu dikontrol namun yang lebih tepat adalah polisi. Nah, supaya polisi tidak bermasalah juga maka perlulah memberi contoh profesional dan etis. Kebanyakannya yang terjadi di lapangan adalah mereka yang berseragam plus bersenjata (entah itu yang berurusan dengan hal sipil dan yang kaitannya dengan perang) berlagak arogan dan sering menyalahgunakan kekuasaan (abuse of power). Pungli dan memakai "ordal" adalah mentalitas yang melekat bagi kekuasaan manapun yang korup. 

Oleh karena itu, mari kita jaga dan kawal. Kita "kontrol" pekerjaan yang merupakan "titipan" kita untuk dikerjakan demi kesejahteraan bersama (keadilan sosial bagi seluruh publik di republik ini) karena kita mau membuat wadah besar republik ini demi ke arah itu. Republik ini punya aturan main dan sistem yang dibuat oleh lembaga legislatif. Pelaksananya adalah eksekutif. Jika aturan main perlu dikawal maka yudikatiflah yang bekerja. Maka, sistem kita tidak bolehlah tumpang tindih atau malah saling kongkalikong antar tiga lembaga itu. Perlulah sisi monitoring dan evaluasi, sehingga butuh transparasi, bukan formalitas belaka. Kita terlalu lama lekat dengan mentalitas formalisme, apa-apa ada form-nya, namun itu hanya untuk di atas kertas. Realitas di lapangan tidak pernah diperhatikan seperti di atas kertas. Seharusnya apa yang direncanakan itu dilakukan. Jika ada yang berubah, maka di situlah gunanya fungsi pengontrol (QC) dan evaluator atau pengawas. Jika harus diubah, seberapa banyak perubahannya, sehingga hasil akhir selaras dengan rencana. Jika tidak, jalankan dengan transparan sampai akhir.       

Sekali lagi, sebuah republik ada karena publik mempunyai cita-cita supaya wadah itu membantu mereka mencapai kesejahteraan bersama dalam wadah hidup bersama. Maka, perlu sistem atau aturan main yang dibuat wakilnya. Ada pelaksana yang juga representasi dari publik karena dipilih publik. Ada juga yang mengawasi jalannya aturan main dan pemain-pemain pelaksana itu. Di sisi lain, ada penjaga bersenjata dalam urusan luar wadah republik (urusan perang dan bencana) dan urusan publik internal (dalam arti sipil). Penjaga ini pun perlu diatur supaya tidak malah memangsa sistem dan tuannya, yaitu publik itu sendiri karena mereka yang bersenjata berpotensi agresif dan ofensif, tentunya akan berpotensi melakukan kekerasan. Mereka adalah pihak yang sah memakai senjata dan membuat kekerasan di sebuah republik karena aturan mainnya jika ada keadaan darurat. Maka mereka pun perlu diawasi dan dikontrol supaya ada antisipasi untuk tidak membuat kondisi darurat. Sistem dan jalannya sebuah republik harus dibuka secara transparan pada publik agar peran serta publik pun sepenuhnya terjadi demi kesejahteraan bersama itu. Yah, itulah celotehan bagi situasi akhir-akhir ini di republik ini.  


#eveningtime#

Saturday, August 30, 2025

Apakah hanya "Sekedar" ?

Dengan kejadian kekerasan, demo besar dan terjadi di berbagai tempat, aksi protes, saling umpat, berhadap-hadapan, dan akhirnya ada nyawa yang melayang, apakah semua itu hanya "sekedar"? Satu nyawa bagi sementara pihak bisa saja dinilai "sekedar" atau "hanya". Bagi sementara orang ketika melihat angka dan nominal, dia hanya mengatakan "sekedar". Tapi kenyataan berkata lain. Itu semua bukan "sekedar". Itu semua adalah kenyataan. Itu adalah realitas. Angka dan simbol nominal itu adalah simbol kenyataan itu sendiri. Mungkin generasi kekinian hanya mengenal ikon / emotikon / sticker atau sekedar meme. Namun demikian dalam segala bentuk visual itu yang mau diungkapkan adalah realitas yang tak terungkapkan semua. Visualisasi adalah bentuk ungkapan bagi keseluruhan, hanya mewakili sedikit karena realitas tak semudah itu diungkapkan. 

Kejadian beberapa hari ini di beberapa tempat adalah kenyataan yang sudah ada potensinya dari beberapa waktu sebelumnya. Ada pemicu. Ada sumbernya. Namun kadang orang tak sadar dan hanya melihat yang ada kini dan di depan mata. Realitas sebenarnya tak pernah disadari sepenuhnya karena kita terlalu dangkal untuk mengenalinya. Kita terlalu terlena untuk mengenali dan menamai apa yang sebenarnya menjadi kebutuhan kita. Kita tak mau jujur dengan diri kita dan hanya ikut-ikutan dan cari enaknya saja. Sering fatamorgana membutakan kita. Sering yang "wah", "hebat", "kaya", "menarik", itu yang kita pilih. Itulah kesalahan kita. Yang jelek, yang berat, yang menyengsarakan, yang harus kerja keras, tidak kita pilih. Padahal itu adalah kenyataan jujur yang harus kita jalani, bukan hanya di luar diri kita. Kerja keras dan perjuangan adalah jati diri kita. 

Bukan sebuah hal yang asing bagiku jika ada kekerasan lagi. Bukan sebuah kebetulan jika ada aksi protes massa yang terjadi. bahkan aku tidak menilai asing atau kaget atau menyesal jika ada nyawa yang tumbang lebih banyak lagi, entah dari pihak siapa. Hal ini dikarenakan aku paham akan hukum alam yaitu siapa yang abai akan menerima akibat. Siapa yang memulai akan menuai akhir. Siapa yang menyulut akan kena percikan api. Siapa yang mengurbankan, akan jadi kurban selanjutnya. Alam pada dasarnya mencari keseimbangan. Semesta pada prinsipnya akan mencari awal dan akhirnya. Mungkin tak bisa lagi seperti Revolusi Prancis yang menjatuhkan raja dan ratu dan antek-antenya dengan pemenggalan kepala di pisau guilotine. Tapi itu pun mungkin. 

Aku menyayangkan pola hidup manusia kita. Aku menyayangkan ketidaksadaran akan apa yang mereka pilih dan katakan. Aku menyesalkan bagaimana kualitas kita bertindak ternyata masih amburadul dan tak punya pertimbangan matang. Manusia negeri ini kebanyakan dipengaruhi oleh hal-hal yang dangkal. Angin ke sana, maka ikut ke sana. Angin ke sini, maka ikut ke sini. Yang viral, yang menggelembung, yang gebyarnya lebih banyak, itulah yang dipilih. Maka tak mengherankan bahwa kita belum sadar untuk apa dan bagaimana kita hidup. Aku belum tahu sebenarnya hidupku sendiri. Ibaratnya, seperti rakyat Jerman yang dulu pernah memilih seorang monster pembunuh dan dielu-elukan oleh massa. Uang dan kuasa itu berkelindan. Kuasa dan penyalahgunaanya itu akan selalu ada. Kuasa dan kekerasan pastilah sebuah pasangan abadi yang tak terelakkan jika tanpa kesadaran kontrol terhadap kuasa itu.

Di sini dan saat ini kita dipertontonkan dengan aksi pongah dan vulgar para perampok hidup manusia. Para penjoget dan badut yang kita "percayai" (sedangkan aku sendiri skeptis dan tidak tertarik dan tidak percaya - sebagai disclaimer) sebagai "wakil rakyat". Wakil macam apa, jika mereka tak mencerminkan hidup rakyat dengan: hidup mewah, tunjangan ugal-ugalan, gaji jumbo, tidak pernah mendengarkan aspirasi rakyat, tidak pernah mengalami "rekasa"-nya rakyat? Saat ini kesadaran bahwa memilih wakil itu harus benar dan sadar. Yang belum bisa kutemukan adalah cara mengawal dan mengontrol wakil-wakil rakyat ini. Kelemahan kita selalu dalam hal kontrol terhadap kualitas kerja dan hidup mereka yang kita percayai, kita sebut sebagai parlemen, eksekutif, dan yudikatif kita. Ketiga lembaga itu harus kita kawal dengan baik. Ketiganya bisa saja bermain dan tidak menunjukkan kinerja sebenarnya. Selama 32 tahun tiga lembaga itu hanya simbol dari kekuasaan yang menindas. Semua ada di satu tangan yaitu sang diktator. Sang diktator berposisi sebagai eksekutif. Sedangkan parlemen dan yudikatif hanya sebagai lembaga yang "mengiyakan" segala macam hal yang dimaui oleh sang diktator. Yudikatif hanya mengetok palu bagi sang diktator (baca eksekutif) dan penyetempel undang-undang hasil kerja palsu si legislatif, karena aturan mainnya hanya bagi kepentingan keluarga dan antek-anteknya. Apalagi ketika sang diktator punya kuasa penuh memegang senjata alias tentara. Dia punya bedil dan sepatu lars. Dia juga yang punya mobil tank dan barakuda untuk melindas lawan dan bahkan rakyat pun adalah lawannya jika protes. Yang punya kuasa harus dikoreksi, diingatkan, bahkan dikritik. Lembaga Kritik Nasional kiranya diperlukan bagi indera penguasa. 

Lengkaplah sudah penderitaan rakyat. Lengkaplah sudah penindasan oleh bangsa sendiri. Lengkaplah sudah semua yang kita rasakan sebagai tekanan terstruktur dan masif itu. Rakyat hanya dipakai sebagai boneka mainan belaka yang sewaktu-waktu bisa dirusak, dihempaskan, dibuang, diinjak-injak. Diijnak oleh mereka yang tak punya kepekaan, tak punya sense of crisis, tak punya option for the poor, tak punya rasa karena mereka orang kaya, borjuis. 

Dimaksudkan ada tiga unsur di atas, yaitu eksekutif, yudikatif dan legislatif supaya ada mekanisme saling kontrol. Eh, ternyata pengalaman nyata sebelumnya itu bisa saja hanya ilusi. Yang memang harus disadari adalah bisa saja salah satu dari tiga lembaga itu berkuasa atas yang lain. Aku hanya melihat banyak kemungkinan. Yang ada dalam benakku karena pernah mengalami kenyataan sebelumnya yaitu kejadian-kejadian di negeri ini akan terulang kembali. Suasana ini biasanya butuh tumbal. Dengan tumbal maka akan terjadi kekacauan. Kekacauan akan menimbulkan suasana darurat. Suasana darurat akan memunculkan satu pihak yang harus menertibkan situasi. Yang punya wewenang ketertiban dalam suasana darurat adalah yang punya bedil. Yang punya bedil akan menjadi penguasa. Itulah logika yang pernah terjadi dalam perjalanan negeri ini. Pesan dan harapanku sebagai rahayat jelata adalah jangan sampai terulang masa itu, masa penuh kengerian, masa penuh pembantaian nyawa, masa penuh represi oleh tangan-tangan berlumur darah dan mereka yang mengangkat bedil.

Oleh karenanya, apakah kenyataan itu hanya "sekedar"? Sekedar nominal angka kenaikan pajak ratusan persen? Sekedar aksi joget-joget di gedung persidangan mereka yang mengaku diri "wakil rahayat"?  Apakah sekedar kematian satu nyawa tukan ojol? Tidak. Semua itu adalah sebuah rangkaian kisah, rangkaian narasi bahwa ada ketidakpekaan, ada sebuah situasi di mana rakyat itu menjerit, ada kisah bahwa pajak dan segala macam kebijakan negeri ini hanya menguntungkan sementara orang dan masih merugikan mayoritas rahayat kecil yang lain, ada ketimpangan di sana sini, yang kaya foya-foya, yang miskin makin terasing, ada kontradiksi: di jalan aksi protes; di gedung megah ada pesta pemberian bintang kehormatan bagi mereka yang tak terhormat, ada yang berjoget karena euforia kenaikan gaji dan tunjangan. 

Sayangnya, kita sebagai rahayat belum mampu membuat sistem kontrol bagi penguasa. Wakil-wakil kita yang ternyata tikus-tikus got itu tak bisa mewakili. Ya jelas, namanya tikus tidak bisa mewakili manusia. Mungkin baik, di waktu selanjutnya, kita tak butuh wajah-wajah tikus lagi untuk kita pilih. Absen dalam pileg lebih baik, dan itu sah-sah saja jika hanya tikus-tikus yang ada dalam daftar. Kita tak perlu pilih pula calon pemimpin yang bisa dikendalikan tikus atau bahkan maling atau yang membiayai maling dan menyuapi maling-maling itu. Sebagai kawanan rahayat, kita perlu membuat gerakan yang terstruktur dan masif dan konsisten untuk mengawal sekaligus menjadi QC dalam gerak dinamika gubernasi negeri ini. Jangan hanya berdoa. Berdoa itu perlu, tapi berdoa itu harus ada kelanjutannya. Berdoa hanya komat-kamit saja, itu hanya ritualisme kompulsif yang tak berguna. Manusia punya cara hidupnya dan pendiriannya. Berdoa untuk mendapat kekuatan dari Hyang Ilahi dan kekuatan itu perlu kita wujudkan dalam tindakan kita mengontrol negeri ini. Berdoa bukan berhenti pada tindakan doa itu sendiri namun akan berdaya bila lebih diaktualkan dalam tindakan mengawasi, mengontrol, mengkritik, bahkan menjewer mereka yang menyelewengkan marwah gubernasi. 

Yah, uneg-uneg ini masih nglambrang dan belum sepenuhnya konkit. Namun setidaknya, aku masih mau peduli dengan korban satu nyawa yang telah terjadi. Adios, Affan Kurniawan! Bahagia di sana, kawan ! Kami masih berjuang di negeri ini....yang tertindas dan masih bisa dilindas.



#behadedofstjohnthebaptist#